2/27/17

Falsafah Hayy Bin Yaqdhan

Radhian. Sebagaimana umumnya para filosuf yang tenggelam dalam kerja kontemplatif Ibnu Thufail juga berfikir tentang alam dan bagaimana proses-prosesnya serta agama dan bagaimana kemunculannya. Kemudian beliau merangkum hasil-hasil pencerahannya dalam karyanya yang terkenal yang diberi nama Hayy Bin Yaqdhan (hidup anak kesadaran, yang bermaksud bahwa intelek manusia berasal dari intelek Tuhan ) atau di kenal juga sebagai asraar al falsafah al isyraqiyah (rahasia-rahasia filsafat eluminasi).

Secara ringkas karya ini berkisah tentang seorang anak yang tumbuh tanpa ayah dan ibu di sebuah pulau tak berpenghuni, anak tersebut di sebut oleh Ibnu Thufail sebagai hay bin yaqdhan (hidup anak kesadaran). Cerita Hayy Bin Yaqdhan dimulai dari sebuah pulau sepi dan terpencil di kepulauan India. Pulau itu sepi dan terpencil, beriklim sedang dan terletak di garis khatulistiwa yang oleh Harun Nasution dikatakan Kepulauan Indonesia. Pengarangnya menjadikan Hayy bin Yaqhdan bertumbuh dipulau yang sunyi sebagai seorang anak yatim piatu yang berhubungan hidup dengan alam, yang kemudian hari diasuh dan dibesarkan oleh rusa dengan air susunya hingga akhirnya menjadi  manusia dewasa dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Ketika umurnya telah mencapai usia tujuh tahun Hayy Bin Yaqdhan menemukan bahwa dirinya ternyata berbeda dengan hewan-hewan lain yang berada di pulau tersebut. Ia melihat bahwa hewan-hewan tersebut ternyata memiliki ekor, pantat dan bulu-bulu di bagian-bagian tubuhnya. Hal tersebut membuat Hayy bin Yaqdhan mulai berfikir dan menggunakan potensi akalnya yang kemudian ia menjadikan daun-daunan untuk menutupi badannya untuk beberapa saat sampai akhirnya menggantinya dengan kulit binatang yang telah mati.

Sampai pada suatu saat, matilah rusa yang mengasuhnya. Hal tersebut mendorongnya untuk memeriksa tubuh dari rusa tersebut. Tetapi secara kasat mata dia tak menemukan sesuatu yang berbeda dari ketika rusa itu masih hidup. Kemudian ia mulai membedahnya hingga menemukan pada rongga tubuh rusa tersebut gumpalan yang diseliputi oleh perkakas tubuh yang mana darah di dalamnya menjadi beku. Maka Hayy Bin Yaqdhan mulai tahu bahwa jantung jika berhenti maka bersamaan itu pula kehidupan suatu makhluk hidup akan berakhir.

Selain dari itu, pada suatu hari Hayy Bin Yaqdhan menyalakan api di pulau tersebut, maka ia mulai merasakan bahwa api ternyata dapat memberikan penerangan dan membangkitkan panas. Tidak cukup dengan itu, ia juga menemukan bahwa daging burung dan ikan yang di bakar api terasa lebih enak dan sedap. Maka mulailah ia selalu menggunakan api untuk memasak makanan dan seterusnya mulailah ia memperkuat penggunaan indranya dan menggunakan apa yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Hayy Bin Yaqdhan juga menyaksikan bahwa alam ini tunduk dalam suatu aturan kosmos dan akan berakhir pada titik ketiadaan, dan yang di maksud dengan alam adalah segala eksistensi yang immanent dan bisa kita rasakan dan semuanya itu mempunyai karakter “Baru” (haadist) yang berarti didahului oleh ketiadaan (yang dalam teori penciptaan di sebut sebagai creatio ex nihilo). Karena setiap peristiwa baru mengharuskan adanya yang mengadakan dan hipotesa ini akhirnya membawa Hayy Bin Yaqdhan pada suatu kesimpulan tentang “Sang Pencipta” dan ia juga menyaksikan bahwa segala eksistensi di alam ini bagaimanapun berbedanya ternyata mempunyai titik-titik kesamaan baik dari segi asal maupun pembentukan maka ini mengarahkannya pada pemikiran bahwa segala yang ada ini bersumber dari subyek yang satu (causa prima) maka ia pun mengimani Tuhan yang satu.

Kemudian Hayy bin Yaqdhan mulai mengarahkan pandangannya ke langit dan melihat matahari yang terbit dan terbenam setiap harinya secara berulang-ulang maka seperti itulah dalam pandangannya aturan kosmos yang berkesinambungan sebagaimana yang terdapat pada planet dan bintang-bintang. Tidak cukup dengan itu, Hayy Bin Yaqdhan berkesimpulan bahwa termasuk sifat Tuhan adalah apa-apa yang bisa kita lihat melalui jejak-jejak ciptaan-Nya, maka tampaklah karakter Tuhan sebagai eksistensi yang Maha sempurna lagi kekal dan yang selainnya akan rusak dan berakhir pada ketiadaan.

Seiring dengan berjalannya waktu sampailah Hayy Bin Yaqdhan pada umurnya yang ke-35, dan mulailah ia mencari indra apa dalam dirinya yang membawanya pada hipotesa-hipotesa dan menunjukinya pada kesimpulan-kesimpulannya yang telah lampau. Maka ia menemukan apa itu akal, ruh dan jiwa. Dan ia tetap hidup di pulaunya sampai beberapa saat dengan kecondongan rohani dan kesenangan melakukan ekstasi (semedi) sambil berkontemplasi tentang segala ciptaan sebagai teofani (tajalliyaat) sang wajibul wujud.

Sampai pada suatu saat singgahlah di pulau tersebut untuk pertama kalinya seorang manusia bernama Absal, seorang ahli ibadah yang hidup secara asketis (zuhd) yang datang dari negeri yang jauh untuk beribadah, bertapa dan berkontemplasi, maka bertemulah Absal dengan Hayy Bin Yaqdhan. Dan Hayy Bin Yaqdhan pun mengambil pelajaran darinya tentang segala nama-nama (Al asmaa’ kulluhaa) dan kebenaran-kebenaran wahyu (syariat). Dan setelah masa yang panjang Hayy pun akhirnya mampu berbicara dengan bahasa Absal.

Kedua orang tersebut membandingkan pikirannya masing-masing, di mana yang satu murid dari alam, sedang yang lain adalah seorang filosof dan pemeluk agama, maka tahulah keduanya bahwa dirinya telah mencapai kesimpulan yang sama. Dan melalui interaksinya dengan Hayy Bin Yaqdhan, maka Absal pun tahu bahwa apa yang telah dicapai Hayy dengan akalnya secara mandiri tanpa bantuan yang lain itu ternyata mempunyai kesinambungan dengan apa yang telah di bawa oleh nabi-nabi. Atas ajakan Hayy, Absal setuju pergi berdua ke pulau dari mana Absal datang. Hayy bermaksud memberitahukan ma’rifat hakiki yang diperolehnya kepada penghuni pulau itu.

Pulau itu diperintah oleh seorang raja yang bernama Salman, sahabat Absal. Salman menerima ajaran agama seperti yang disampaikan nabi, dengan kata lain Salman lebih tertarik pada arti lahir (eksoteris) nash. Ia menyukai hidup di tengah masyarakat dan melarang orang lain untuk hidup menyepi, uzlah.

Setelah Absal mengemukakan ilmu ma’rifat hakiki yang dialami Hayy, penduduk pulau itu menerima Hayy dengan penuh antusias. Namun, setelah Hayy menjelaskan pengetahuan dan pemikiran filsafatnya, ternyata penduduk pulau mencemoohnya. Hayy mendapat pelajaran dari pengalamannya bahwa orang awam tidak memahami dan tidak mampu menerima ma’rifat sejati. Ma’rifat hanya dapat dipahami oleh orang-orang khusus, yang dalam agama telah mencapai martabat tinggi dibandingkan dengan orang awam. Orang awam tidak mampu menjangkau konsep-konsep murni. Hayy pun menyadari bahwa pergaulan membawa kerusakan bagi masyarakat dan untuk memperbaikinya sangat diperlukan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi. Karena Nabi lah yang paling mengenal jiwa manusia pada umumnya. Ia mohon maaf kepada Salman dan penduduknya, dan mengakui kekeliruannya sendiri karena memaksa mereka mencari makna yang tersembunyi dalam kitab suci (Al-Qur’an). Pesan perpisahannya ialah mereka harus berpegang teguh kepada ketentuan hukum syariat yang telah mereka yakini selama ini. Akhirnya Hayy dan Absal kembali ke pulau tempat Hayy berasal. Mereka mengisi sisa umurnya dengan beribadah sepenuhnya kepada Allah.  

Sebenarnya orisinalitas risalah Hayy bin Yaqdhan sebagi karya monumental tidak sunyi dari kritikan, karena risalah yang sama pernah ditulis oleh Ibnu Sina. Namun demikian, jika diteliti dengan seksama setidaknya Ibnu Thufail telah meramu dengan cekatan berbagai risalah yang ada pada waktu itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan baik, sekaligus memberi muatan-muatan kefilsafatan yang menggambarkan pandangannya secara sempurna.

Roman Hayy bin Yaqhdan yang ditulis Ibnu Sina, dikisahkan bahwa ia bersama teman-temannya berkelana kesuatu kota, tiba-tiba bertemu dengan seorang laki-laki tua bernama Hayy bin Yaqdhan. Ibnu Sina minta izin agar dibenarkan menemani pengembaraan terakhir orang tua tersebut. Tetapi, orang tua itu menolak karena Ibnu Sina tidak mungkin meninggalkan teman-teman seperjalanannya. Dalam kisah ini Ibnu Sina menggambarkan Hayy sebagai orang tua yang telah matang dan melambangkan akal aktif (al-‘aql al-fa’al). Pada karya Ibnu Thufail, Hayy adalah seorang bayi yang kemudian menjadi besar dengan proses alam yang mendapat nur ilahi. Adapun nama dua tokoh lainnya, Absal dan Salman yang sama dengan roman Ibnu Sina. Ibnu Sina menggambarkan Absal sebagai al-‘aql al-nazhahari (akal teoritis) yang mencapai kesempurnaan denagn jalan al-irfan, dan Salman sebagai al-nafs al-nathiqah (jiwa manusia). Dalam karya Ibnu Thufail, Absal adalah lambang wahyu dan Salman lambang awam yang terikat materi. 

Jika dilihat, maka akan didapati tiga hal dalam kisah tersebut yang masing-masing menjadi lambang tiga hidup yang berlainan:
  1. Hayy Bin Yaqdhan, sebagai lambang kekuatan akal dalam mencapai suatu kesimpulan atas keyakinan kepada Tuhan. Dengan memikirkan alam dengan isinya serta dirinya sendiri, lambat laun sampai pada keyakinan kepada Tuhan.
  2. Tokoh Absal, sebagai lambang hidup tokoh agama, yang dengan memikirkan wahyu sebagai kebenaran, lambat laun sampai kepada keyakinan kepada Tuhan.
  3. Raja Salman dan rakyatnya sebagai lambang hidup dari dunia kita ini, yang mengetahui Tuhan dari pelajaran yang diperoleh dari gurunya, yang pada dhahirnya saja mengakui adanya Tuhan, jadi tidak disertai dengan keyakinan, sehingga kehidupan mereka dipengaruhi oleh nafsu hendak senang, hendak kaya dan hendak mendapat kedudukan.
Kebenaran-kebenaran dari celah-celah kisah Hayy bin Yaqdhan. Dari keringkasan cerita tersebut dan dari rumusan-rumusan di balik cerita tersebut sebenarnya Ibnu Thufail hendak mengemukakan kebenaran-kebenaran berikut ini seperti yang disimpulkan oleh Nadhim al-Jisr dalam buku Qissat al-iman:
  1. Urut-urutan tangga ma’rifat (pengetahuan) yang ditempuh oleh akal, dimulai dari obyek-obyek inderawi yang khusus sampai kepada pikiran-pikiran yang universal.
  2. Tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa mengetahui wujud Tuhan, yaitu dengan melalui tanda-tandanya pada makhluk-Nya, dan menegakkan dalil-dalil atas wujud-Nya itu.
  3. Akal manusia ini kadang-kadang mengalami ketumpulan dan ketidakmampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yaitu ketika hendak menggambarkan keazalian mutlak, zaman, qadim, hudust (baru) dan hal-hal lain yang sejenis dengan itu.
  4. Baik akal menguatkan qadimnya alam atau kebaharuannya namun, kelanjutan dari kepercayaan tersebut adalah satu juga, yaitu adanya Tuhan.
  5. Manusia dengan akalnya sanggup mengetahui dasar-dasar keutamaan dan dasar-dasar akhalak yang bersifat amali dan kemasyarakatan, serta berhiaskan diri dengan keutamaan dasar akhlak tersebut, di samping menunjukkan keinginan-keinginan badan kepada hukum pikiran, tanpa melalaikan hak badan, atau meninggalkannya sama sekali.
  6. Apa yang diperintahkan oleh syariat islam dan apa yang diketahui oleh akal yang sehat dengan sendirinya, berupa kebenaran, kebaikan dan keindahan dapat bertemu kedua-duanya dalam satu titik, tanpa diperselisihkan lagi.
  7. Pokok dari semua hikmah ialah apa yang telah ditetapkan oleh Syara’, yaitu mengarahkan pembicaraan kepada orang lain menurut kesanggupan akalnya, tanpa membuka kebenaran dan rahasia-rahasia filsafat kepada mereka. Juga pokok pangkal segala kebaikan ialah menetapi batas-batas syara, dan meninggalkan pendalaman sesuatu.
Demikianlah kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari rumusan kata-kata kisah Hayy Bin Yaqdhan. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Nabi SAW juga telah mengatakan bahwa setiap bayi yang dilahirkan oleh seorang itu muslim (suci), akan tetapi kedua orang tuanya membawa dia sebagai pemeluk agama yang dipeluk mereka. Penuturan hadits tersebut sejalan dengan bunyi ayat Al-Qur’an pada surat Ar-Rum ayat 30 :

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠ 

Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Pikiran pokok dalam ayat tersebut hendak mengemukakan bahwa ajaran Islam membantu seseorang yang diberi pikiran sehat yang dapat dipakainya untuk membedakan antara baik dengan buruk, dalam menemukan jalan hidup yang baik bagi dirinya sendiri; suatu jalan yang menuntunnya kepada pembebasan. Ibnu Thufail dalam kisahnya Hayy Bin Yaqdhan itu juga membuktikan tentang tidak adanya perlawanan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dengan agama.




Sumber Bacaan
Harun  Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: Universitas Indonesia, 1983, cet II
Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam,Jakarta: Bulan Bintang, 1991
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Jakarta: PT Raja GRafindo Persada,2004
Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2004

0 komentar:

Post a Comment