3/9/17

Dari Pemuda Menuju Indonesia Sejahtera

Pemuda adalah harapan masa depan bangsa! Begitulah kira-kira ungkapan yang sering terdengar dalam forum-forum formal maupun informal yang dimotori oleh anak bangsa. mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan kebebasan, pembentukan wadah perjuangan dalam sebuah organisasi menjadi sebuah indikator untuk mengenali perwujudan kesadaran ditubuh masyarakat. Arbi Sanit (1989) menyatakan bahwa kesadaran untuk berkumpul dimulai dari kesadaran golongan atau kesadaran primordial. Kesadaran tersebut dalam catatan sejarah, baru terwujud hampir dua dekade saat terbentuknya Boedi Oetomo dalam tahun 1908 yang dipelopori oleh mahasiswa atau pelajar. Semenjak itulah perjuangan pemuda semakin gencar untuk melakukan perubahan-perubahan untuk bangsanya. Diiringi dengan pembentukan organisasi kepemudaan dengan istilah Tri Koro Dharmo pada tahun 1915 yang mewadahi kegiatan pelajar di sekolah menengah keatas khususnya dari suku Jawa dan kemudian berganti nama menjadi Jong Java. Berangkat dari fakta tersebut muncul beberapa organisasi berbasis pemuda didaerah-daerah diwilayah nusantara seperti Jong Sumatra Bond pada tahun 1917, kemudian disusul dengan pembentukan Jong Celebes ditahun 1918, dan wadah tempat berkumpulnya pelajar-pelajar Indonesia diluar negeri seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). 

Seiring dengan perjalanan waktu, kembalinya pelajar ketanah air melihat kondisi bangsa yang tanpa ada perubahan, dan kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia. Melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925. Kemudian terinspirasi dari berdirinya dua kelompok tersebut terbentuk pula Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) di awal tahun 1926. PPPI menghimpun seluruh elemen gerakan yang bersifat kebangsaan antara lain seperti kelompok studi mahasiswa katolik, kelompok studi mahasiswa Kristen, dan kelompok studi mahasiswa Islam. Berawal dari kebangkitan kaum pelajar inilah terinspirasi “Sumpah Pemuda” yang dihasilkan oleh kongres pemuda II di Jakarta pada tanggal 26-28 Oktober 1928 yang dimotori oleh PPPI, hingga saat ini selalu kita kenang dengan “Hari Sumpah Pemuda”.

Hingga tahun 1945, gejolak semangat kaum muda masih tetap membakar semangat untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda, puncaknya dengan dipelopori oleh kaum muda (mahasiswa) proklamasi kemerdekaan Indonesia di bacakan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sejarah tetaplah sejarah yang terukir manis dalam catatan dan menjadi santapan generasi masa kini. Semangat muda diera ‘globalisasi’ bergeser menjadi spirit hura-hura (hedonism), tak pelak kaum muda terjerumus dalam jeratan “narkoba” yang dampaknya merusak tatanan generasi bangsa. Negara seakan hadir dibelakang dan menjadi penonton. Kaum muda seakan dibiarkan dan mengakibatkan kondisi pengangguran diusia produktif semakin tinggi. BPS (2011) merilis data pengangguran diusia produktif mencapai 60,5%. Cukup fantastis ketika melihat angka pengangguran yang dialami oleh kaum muda. 

Banyak persoalan yang dimunculkan ketika pemuda-pemuda Indonesia menganggur. Oleh karena itu, perlu “empowering” yang dilakukan oleh negara untuk menyiapkan generasi penerus. Hal ini dilakukan karena melihat beberapa potensi yang dimiliki oleh pemuda Indonesia yang saat ini berjumlah 37,8% dari total penduduk atau setara dengan 83,16 juta orang (BPS, 2011). Selain itu, jumlah organisasi kepemudaan di Indonesia yang sangat banyak untuk pembinaan kepemimpinan pemuda Indonesia; potensi intelektual (bakat dan minat) pemuda Indonesia yang memadai; motivasi atau semangat dan antusiasme pemuda Indonesia untuk maju sangat tinggi. Beberapa potensi inilah harus mampu dimanage oleh negara untuk diberdayakan sebagaimana mestinya.  

0 komentar:

Post a Comment