3/9/17

DERADIKALISASI AGAMA

Radhian. Bangsa yang maju memiliki budaya yang kuat dan ekspansif karena mampu menularkan budayanya kepada bangsa lain. Dengan kata lain, tanpa budaya yang kuat, suatu bangsa bisa jadi hilang ditelan, dipengaruhi, dikuasai, atau bahkan ditinggalkan oleh peradaban yang lebih besar dan lebih kuat.

Dalam konteks Indonesia, mari kita bertanya, budaya Indonesia yang mana yang kita miliki dan perlu kita kembangkan untuk meningkatkan peran dan kontribusi Indonesia di peradaban Asia atau bahkan dunia saat ini ?.

Mengapa karakter kebangsaan Indonesia semakin luntur atau setidaknya 'kabur' sampai kita sendiri susah untuk mengenalinya? Itu tidak lain karena sistem pendidikan di Indonesia tidak dikemas dan ditujukan untuk membangun suatu karakter budaya yang kuat. Sistem pendidikan nasional masih berorientasi pada pembangunan fisik, bukan pembangunan jiwa dan karakter kebangsaan. Karenanya, demi kepentingan masa depan anak cucu bangsa dalam 30 tahun ke depan, Indonesia butuh solusi, yang pragmatis, kreatif, dan segera.

”Pragmatis” dalam arti solusi tersebut harus betul-betul mengatasi masalah pembiayaan yang dibutuhkan sektor pendidikan nasional. ”Kreatif” dalam arti solusi tersebut tidak boleh lagi-lagi membebani keuangan negara yang sudah hampir lumpuh dibebani utang. ”Segera” dalam arti solusi tersebut ada di sekitar kita dan dapat segera diciptakan, diterapkan, dan disempurnakan terus- menerus.

Di titik ini, konsep yang niscaya direalisir demi masa depan anak cucu Indonesia untuk 30 tahun ke depan adalah pembangunan karakter kebangsaan yang kuat. Dalam konteks ini, agenda besar penanaman nilai karakter nasionalisme adalah untuk membangun keberadaban bangsa menjadi sangat kontekstual direalisir. 
Paling tidak, ada tiga hal penting dan urgen untuk diperhatikan agar agenda besar tersebut tidak terjebak menjadi slogan dan retorika belaka.

Pertama, memberikan bekal karakter kebangsaan dan nasionalisme sebagai bagian yang tak terpisahkan secara simultan dan berkelanjutan kepada generas muda dan masyarakat. Dekadensi moral dan merosotnya nilai keluhuran budi di kalangan masyarakat kita sudah ibarat tanggul jebol. Di tingkat generasi muda, penanganannya tak cukup hanya diserahkan kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama saja, tetapi secara kolektif harus melibatkan semua elemen bangsa. 

Kedua, jadikan karakter kebangsaan sebagai salah satu kegiatan pengembangan diri di lingkungan sosial masing-masing. Ketiga, menciptakan situasi lingkungan yang kondusif yang memungkinkan penanaman karakter kebangsaan dan nasionalisme bisa bersemi dan mengakar dalam lingkungan sosial kita. 

Kita berharap, ada upaya serius untuk membumikan pendidikan karakter agar benar-benar bisa menjadi jalan pencerahan dalam mendesain peradaban yang lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Kita sudah amat lama merindukan lahirnya generasi masa depan yang cerdas, santun, bermoral, dan luhur budi.

0 komentar:

Post a Comment