4/1/17

INTELEGENSIA

Menggali Konsep dan Makna Intelegensia

Pendahuluan
Kecerdasan merupakan salah satu anugrah besar dari Allah SWT kepada manusia yang menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasan ini, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks melalui proses berfikir dan belajar sepanjang hayat “long life education”.

Selama para ahli mengembangkan penelitian tentang neurology kecerdasan mulai tersingkap dengan jelas. Diketahui bahwa dalam tengkorak manusia terdapat segumpal benda yang disebut dengan otak. Dari kesimpulan sains diketahui bahwa terdapat pembagian dalam otak yang sangat mempengaruhi pola berfikir manusia dan pusat kecerdasan, yaitu otak kanan dan otak kiri. Oleh karena itu, banyak orang berpendapat bahwa semakin besar volume materi otak menentukan tingkat kecerdasan seseorang.

Kecerdasan pada awalnya menjadi perhatian utama bagi kalangan ahli psikologi pendidikan. Statemen kecerdasan menurut para ahli, tidak dilatarbelakangi oleh kesuksesan, akan tetapi para ahli meninjau kecerdasan dari segala aspek (sisi dalam/internal), sementara pandangan masyarakat awam agak berbeda karena dasarnya dari kesuksesan/kelebihan dibanding dengan masyarakat pada umumnya (sisi luar). 

Inteligensi merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya seorang anak dalam belajar, manakala anak memiliki inteligensi yang normal, tetapi prestasi belajarnya sangat rendah sekali. Hal ini tentu disebabkan oleh hal-hal yang lain, misalnya sering sakit, tidak pernah belajar di rumah, dan sebagainya. Kalau anak memiliki inteligensi dibawah normal, maka sulit baginya untuk bersaing dalam pencapaian prestasi tinggi dengan anak yang mempunyai inteligensi normal atau diatas normal. Kepada anak yang demikian, hendaknya diberi pertolongan khusus atau pendidikan khusus, seperti bimbingan dan sebagainya.

Konsep Dasar Intelegensia
Istilah inteligensi telah banyak digunakan, terutama di dalam bidang psikologi dan pendidikan. Namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak para ahli yang mendefinisikan inteligensi, namun satu sama lain memberikan definisi yang berbeda sehingga belum bisa diperoleh definisi yang tepat mengenai inteligensi.

Kecerdasan (dalam bahasa ingris disebut intelligence dan bahasa arab disebut al-dzaka’) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrab) dalam memahami sesuatu secra cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapanya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-bads

Menurut Imam Malik dalam bukunya menyebutkan bahwa inteligensi adalah suatu kesanggupan atau kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan dengan cepat, tepat dan mudah.  Jadi seseorang yang inteligensi akan dapat melakukan pekerjaan baik pekerjaan yang bersifat fisik atau mental dalam waktu yang singkat  merasa mudah mengerjakannya dan selesai dengan sempurna.

Kecerdasan menurut Peaget,  sebagaimana dikutip Efendi, adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain itu kecerdasan adalah sebuah proses bukan sebuah tempat. Conny Semiawan, sebagaimana dikutip Suharsono, mengikhtisarkan berbagai pengertian dan definisi tentang kecerdasan (intelligence) dari para ahli tesebut ke dalam tiga kriteria, yaitu: judgment (penilaian), comprehention (pengertian), reasoning (penalaran). 

Definisi kecerdasan menurut para ahli, sebagaimana dikutip Hidayah, adalah sebagai berikut :
  1. Kemampuan untuk membuat kombinasi
  2. Kemampuan untuk berfikir abstrak
  3. Kemampuan untuk membuat koneksi/asosiasi
  4. Kapasitas global atau sekumpulan perilaku individu untuk bertingkah laku yang terarah/bertujuan, yang didasari cara berfikir rasional dan bersifat efektif dalam menghadapi situasi lingkungan. Inteligensi menyangkut: kemampuan untuk belajar, kapasitas menyesuaikan diri pada situasi baru, kemampuan menyerap pendidikan yang diberikan, dsb. 
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. 

Dalam pengertian yang lebih luas Crow and Crow, mengemukakan bahwa inteligensi berarti kapasitas umum dari seseorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikiranya dalam mengatasi tuntutan-tuntutan kebutuhan baru, ke dalam ruhaniyah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema-problema dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan. 

Ada kata lain yang dipakai untuk menunjukkan kecerdasan ini seperti rasyid, kata ini lebih mengarah kepada kecerdasan keagamaan dan ada pula yang dikenal al-rasikh yang muatan maknanya lebih dekat kepada pemahaman keagamaan. Di samping itu ada kata akal, alat fikir yang terletak di otak manusia. Akal adalah daya fikir atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, kecerdasan berfikir, atau boleh juga berarti terpelajar.

Kata lain yang menunjukkan akal dalam Al-Qur an ada bermacam-macam ungkapan, seperti :
  • Ya’qiluun artinya mereka yang berakal
  • Yatafakkaruun artinya mereka yang berfikir
  • Yatadabbaruun artinya mereka yang mempelajari
  • Yarauna artinya mereka yang memberi perhatian
  • Yanzhuruun artinya mereka yang memperhatikan
  • Yabhatsuun artinya mereka yang membahas
  • Yazkuruun,artinya mereka yang mengingat
  • Ya’lamuna,artinya mereka yang mengetahuinya
  • Yudrikuna artinya mereka yang mengerti
  • Yaqrauuna artinya mereka yang membaca
Jadi sebenarnya al-Qur’an yang turun ribuan yang lalu telah mengemukakan terlebih dahulu mengenai inteligensi.

Aspek Intelegensia
Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al-ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur qalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif (al-majal al-infi’ali), seperti kehidupan emosional, moral, spiritual, dan agama. Inteligensia mempunyai beberapa aspek yang dikemukakan oleh Hidayah sebagai berikut: 
  1. Kemampuan berfikir abstrak
  2. Kemampuan belajar dari pengalaman
  3. Kemampuan menyelesaikan masalah  berdasarkan insight
  4. Kemampuan menyesuiakan diri pada situasi baru
  5. Kemampuan mengkonsentrasikan diri pada satu tujuan tertentu
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perubahan Inteligensi
Untuk mengembangan kecerdasan intelektual secara baik maka dapat diberikan sejak awal, dimana sejak masa prenatal. Ada empat aspek dasar yang dapat dilakukan oleh orang tua bagi perkembangan janin, yaitu persiapan dari;
  1. Aspek fisik dan material (menjaga kesehatan fisik, makanan dan gizi. Pengadaan finansial lainnya), 
  2. Aspek moral (termasuk kesiapan waktu hamil dan tingkah lakunya Kesabaran, kesiapan hidup sederhana (qanaah), akhlak yang baik), 
  3. Aspek intelektual
  4. Aspek spiritual (kualitas dalam kehidupan beragama daan bermasyarakat). 
Pendidik dan pihak-pihak sekolah untuk lebih mempemperhatikan kebutuhan dan keinginan peserta didik. Sebagai contoh mengembangkan kemampuan berhitung harus selaras dengan pertumbuhan logika anak. Mengarahkan pada anak akan pentingnya kemampuan berbahasa dalam berbagai keperluan.

Menghidari faktor-faktor penyebab rendahnya IQ, antara lain: a) Faktor internal (pada diri anak) terjadi karena gangguan mental, kurang gizi, kemampuan yang tidak mau untuk mengembangkannya, serta tekanan untuk berprestasi dari orang tua.  b) Faktor eksternal, yaitu: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat sekitar. Dapat dimbil kesimpulan bahwa yang perkembangan inteligensi  merupakan hasil dari interaksi yang komplek antara faktor hereditas/bawaan dan faktor lingkungan. 

Inteligensi akan dapat bersifat menetap yaitu bila lingkungan stabil relatif menetap. Akan tetapi inteligensi dapat berubah terkait dengan perubahan karakteristik keluarga dan lingkungan rumah, dan lain-lain.

Sebenarnya tidak semua makhluk dilengkapi dengan akal. Yang diberi Allah SWT akal hanyalah makhluk jenis manusia saja. Oleh sebab itu makhluk jenis manusia ini menjadi makhluk mulia. Ini dapat dipahami dari firman Allah surah Al-Baqarah ayat 33 dan 34 tentang eksistensi manusia, yang artinya sebagai berikut: Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?". Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir" (QS. Al-Baqarah: 33–34) 

Dari ayat ini berisi perintah Allah supaya semua Malaikat dan Iblis serta Jin bersujud kepada Adam karena ia dapat menggunakan akalnya mengetahui nama-nama benda (ilmu pengetahuan). Semuanya bersujud mengakui kelebihan Adam kecuali Iblis. Demikian pentingnya pengaruh akal bagi manusia. Dan atas rahman dan rahimNya, manusia diberi akal sehingga menjadi makhluk yang mulia, yang sebaik-baik makhluk, seperti yang disebutkan Allah dalam firmanNya dalam surah al-Tiin ayat 4 dan 5, yang artinya adalah: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tapi kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. 

Jadi jika ditelaah ayat di atas dapat dipahami bahwa pada diri Adam terdapat suatu khazanah pengetahuan yang luas, sebuah perpustakaan yang mengandung inti ilmu dan pengetahuan kemanusiaan, serta laboratorium yang dari Adam itu muncul kreasi yang akan dikembangkan manusia, dari penemuan-penemuan yang akan ditemukan di masa depan melalui kecerdasan-kecerdasan akal anak cucu Adam hingga datang hari kiamat.Anak cucu Adam yang suka berfikirlah yang akan mewarisi ilmu pengetahuan ini baik yang praktis maupun teoritis, yang kemudian mengembangkannya dan memanfaatkannya.

Allah mengajar manusia dengan cara berulang-ulang supaya manusia mendapat pendidikan dan pengajaran. Bahkan dengan cara itu masih tidak semua manusia dapat menangkap dan memahaminya. Tanda-tanda orang yang menggunakan akal dan kecerdasannya menerima ayat itu digambarkan oleh Allah bahwa: bila manusia itu mengerti akan timbul rasa takut kepada Allah yakni takut akan kebesaran Allah. Takut itu ada dua macam yang pertama ada yang disebut dengan istilah khauf yakni takut karena dirinya punya kelemahan dalam menghadapi sesuatu, yang kedua adalah takut dengan istilah khasyyah  yakni takut karena keagungan/keutamaan yang dimiliki sesuatu. Ulama (orang yang berilmu pengetahuan yang benar) yang cerdas yang dapat membawa kepada kondisi khasyyah itu. Oleh sebab itu, orang yang berfikir cerdas itu bisa berproses menjadi orang yang sampai kepada kondisi khasyyatillah Misalnya ilmuwan geologi (yang membahas gempa, ilmuwan kelautan, ilmuwan biologi dan bidang kedokteran, bahkan ahli apa saja dapat mengantarkannya kepada Khasyyatillah sampai terucapkan pengakuan yang indah dan ringan “subhanaka faqina ‘azabannar” bahwa Allah itu bersih dari sifat-sifat yang kurang

Multiple Intelligences
Pengukuran kecerdasan tidak dapat dijadikan patokan sebagai kapasitas potensi secara langsung. Ternyata banyak dari siswa yang memiliki IQ tinggi akan tetapi kurang sukses dalam prestasi belajarnya, akan tetapi dari beberapa siswa yang memiliki IQ rata-rata memilki kesuskesan yang tinggi. 

Meskipun kecerdasan intelektual sangat penting dalam dunia akademis namun hanya berbekal IQ saja tidak cukup. IQ (Intelligence Quotient), Menurut Goleman,  bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 5-10% bagi kesuksesan hidup seseorang, sisanya adalah kombinasi beragam faktor yang salah satunya adalah kecerdasan emosi (EQ). Menurut berbagai penelitian (Steven J. Stein, Ph. D. dan Howard E. Book, M.D) IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20%, bahkan  hanya 6%.

Selain kecerdasan emosi masih banyak lagi kecerdasan yang berpengaruh terhadap kesuksesasn seseorang, yaitu kecerdasan spiriual (SQ) yang memberikan kek uatan sebagai penerang dan penunjuk jalan, aspek-aspek spiritual itu tidak hanya membuat seseorang sukses, tetapi juga bahagia. 

Kecerdasan menurut Howard Gardner, Charles Sprearman, Thurstone, Guilfort, dan Gardner bersifat majemuk (Multiple Intelligences/MI: kecerdasan majemuk). yang terdiri atas;  
  • Kecerdasan Linguistik meliputi kemampuan dalam hal mengarag, mambaca maupun berkomunikasi verbal. Tipe kecerdasan ini bayak dikuasai oleh mereka yang berprofesi sebagai sastrawan, penyair, wartawan, presenter maupun orator.
  • Kecerdasan Logika-Matematika. Kecerdasan ini dapat membantu seseorang menemukan solusi persoalan yang melibatkan perhitungan angka. 
  • Kecerdasan Visual-Spasial. Tipe kecerdasan ini memudahkan seseorang untuk menemukan arah, menggunakan peta, dan melihat obyek dari berbagai sudut. 
  • Kecerdasan Gerak Tubuh. Dikuasai oleh olahragawan, panari, pamahat  dan dokter bedah.
  • Kecerdasan musikal. Ada pada musisi, penyanyi, dan composer.
  • Kecerdasan interpersonal. Orang mampu memahami hal-hal yang ada di dalam dirinya dan menggunakannya sebagai alat untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri.
  • Kecerdasan Naturalis. kemampuan untuk bekerjasama dan menyelaraskan diri dengan alam.
  • Kecerdasan Intrapersonal. Ciri-cirinya memukau, mempengaruhi, dan terampil membina hubungan dengan orang lain. 
Selain itu masih terdapat lagi kecerdasan rububiyah, uluhiyah, khuluqiyah dan ubudiyah yang terdapat pada diri seorang manusia. Hanya cara pengembangannya yang berbeda-beda.





Daftar Rujukan
Adhipurna, Lucky G., “Kecerdasan Spiritual”, Journal of Psyche, 2003: No. 2 Vol. I.
Crow, Lester D., Alice Crow, Psikologi Pendidikan, terj. Z. Kasijan, Surabaya: Bina Ilmu, 1984.
Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Efendi, Agus, Revolusi Kecerdasan Abad 21, Bandung: Alfabeta, 2005.
Hidayah, Rifa, Psikologi Pendidikan, Malang: UIN Maliki Press, 2006.
Malik, Imam, Psikologi Umum, Tulungagung: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tulungagung, 2004.
Mujib, Abdul, Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002.
Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2009.
Slameto, Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.
Suharsono, Melejitkan IQ, IE, dan IS, Jakarta: Inisiasi Press, 2001.

0 komentar:

Post a Comment