5/2/17

Sejarah Pendidikan Islam

MADRASAH NIDZAMIYAH

Biografi Pendiri Madrasah Nidzamiyah
Nidzam al-Mulk (Radkan, Tus, 10 april 1018-Sihna, 14 oktober 1092) adalah seorang perdana menteri Dinasti Salajiqah (Saljuk) pada masa pemerintahan Sultan Alp Arslan dan Sultan Maliksyah. Nama aslinya Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq al-Tusi. Dia pernah ke Naisabur dan menuntut ilmu pada ulama madzhab Syafi'i, Hibatullah al-Muwaffaq. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan Gaznawi di Tus, Khurasan. Ketika sebagian besar Khurasan jatuh ke tangan pasukan Saljuk, ayahnya membawa Nidzam al-Mulk lari ke Khusrawijrd dan seterusnya ke Gazna. Di Gazna, Nidzam al-Mulk bekerja pada sebuah kantor pemerintah Mahmud Gaznawi.

Namun tiga atau empat tahun kemudian ia meninggalkan Gazna dan menuju ke daerah kekuasaan Saljuk. Pada mulanya ia bekerja di Balkh yang dikuasai Saljuk (432H/1040-1041M), kemudian pindah ke Marw. Karirnya meningkat dengan cepat, sehingga ia ditarik ke Istana Sultan Alp Arslan dengan perdana menterinya Abu Ali Ahmad bin Syazan. Ketika perdana menteri ini meninggal dunia, Nidzam al-Mulk ditunjuk Sultan sebagai perdana menterinya.

Dalam jabatannya sebagai perdana menteri ini ia menunjukkan kecakapannya sebagai negarawan yang terpercaya. Untuk memelihara stabilitas negara ia menasehatkan sultan agar memberi lapangan pekerjaan kepada pengungsi-pengungsi Turki yang datang ke Persia (Iran) akibat kemenangan Dinasti Saljuk, dan meningkatkan kekuatan tempur angkatan bersenjata Saljuk serta gerak cepatnya untuk menumpas pemberontakan, tetapi pemberontak yang menyerah harus diampuni. Kemudian dinasti juga harus mempertahankan penguasa-penguasa lokal, baik syiah maupun Sunni, dan menunjuk keluarga Bani Saljuk sebagai gubernur-gubernur. Nidzam al-Mulk juga bertindak menghindari perebutan kekuasaan setelah meninggalnya sultan, dengan cara mengumumkan dan menunjuk Maliksyah sebagai putra mahkota yang akan menggantikan sultan. Hubungan dengan khilafah Abbasyiyah sebagai penguasa tertinggi dunia Islam ketika itu juga dijalin dengan baik oleh Nidzam al-Mulk, sehingga ia mendapat penghargaan dari khalifah yang berupa gelar Qiwam al-Din (Pendukung agama) dan Radi Amir al-Mu'minin (yang meridhai dan pemimpin orang-orang beriman).

Nidzam al-Mulk tetap menjadi perdana menteri Dinasti Saljuk, bahkan setelah Alp Arslan meninggal dan digantikan oleh Maliksyah.  Perannya pada masa Sultan Maliksyah bertambah besar dibanding sebelumnya. Ia dipercaya oleh Sultan Maliksyah, yang ketika naik tahta berumur 18 tahun, untuk mengatur pemerintahan dan menjalankan kekuasaan politik. Kemudian ia diberi gelar Ata Beq, artinya amir yang dianggap ayah. Ia tetap menjalankan politik kerjasama dan taat kepada Khalifah Abbasyiyah, diantaranya dengan mengawinkan seorang putrinya kepada Khalifah Abbasyiyah, ketika itu al-Muqtadi bin Amr Allah.

Nidzam al-Mulk juga dikenal sebagai perdana menteri yang berpaham Asya'ariyah dan mengusahakan penyebarannya melalui madrasah-madrasah di beberapa kota dalam wilayah Saljuk. Madrasah yang terkenal yang didirikannya adalah Madrasah Nidzamiyah di Baghdad. Banyak tokoh-tokoh besar yang mengajar di Madrasah tersebut. Cabang-cabangnya juga didirikan di semua kota di Irak dan Khurasan.

Usaha Nidzam al-Mulk mendirikan madrasah dan lembaga keagamaan lainnya mendapat dukungan dari ulama-ulama bermadzhab Syafi'i dan  yang beraliran Asy'ariyah. Ulama tersebut gembira karena Nidzam al-Mulk telah mengembalikan nama baik Asy'ariyah yang telah dikutuk oleh al-Kunduri pada masa Tugril Beq. Nidzam al-Mulk juga seorang yang alim, agamawan, dermawan, adil, penyantun, suka memaafkan orang yang bersalah, dan suka berbuat kebaikan. Ia menghapuskan khumus (pajak yang tidak dikenai sanksi syariat), dan meningkatkan sarana dan prasarana bagi mereka yang menunaikan ibadah haji. Ia juga mengamankan jalur perjalanan haji dari Irak ke Tanah Suci. Selain itu, ia juga memprakarsai perluasan Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta pendirian tempat-tempat khusus bagi para abid, zahid dan faqih, serta pendirian rumah sakit di Naisabur.

Setahun sebelum meninggal, ia menulis kitab Siyaset (buku mengenai politik) tentang siyasat pemerintahan yang berisi 50 bab nasehat. Pada tahun berikutnya, ia menambah 11 bab tentang bahaya yang mengancam negara utamanya dari kaum Qaramithah Ismailiyah. Kaum ini mempunyai pasukan pembunuh yang disebut Hasyasyin dan dipimpin oleh Hasan bin Sabbah, yang bertujuan menghidupkan Fatimiyah. Seorang pasukan Hasan bin Sabbah, yang menyamar sebagai sufi, berhasil membunuh Nidzam al-Mulk di Sihna, Nahawand, ketika ia dalam perjalanan dari Isfahan ke Baghdad. Nidzam al-Mulk terbunuh pada tanggal 10 Ramadhan 485 H/ 14 Oktober 1092M. 

Kemunculan Madrasah Nidzamiyah
Sebelum berdirinya Madrasah Nidzamiyah di Baghdad, paling tidak ada empat madrasah besar di Naisabur, yaitu Madrasah Baihaqiyah, Madrasah Assa'diyyah yang dibangun oleh Amir Nasr bin Subuktakin, Madrasah Abu Sa'ad al-Astarabadi dan Madrasah yang didirikan untuk Abu Ishaq al-Isfarayini. 

Madrasah Nidzamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1065-1067 M oleh Nidzam al-Mulk. Madrasah Nidzamiyah ini pada mulanya hanya ada di kota Baghdad, ibu kota dan pusat pemerintahan Islam pada waktu itu. Madrasah Nidzamiyah ini didirikan dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar selasah di Baghdad. Mulai dibangun pada tahun 1065 M dan selesai pada tahun 1067 M.  Pada masa itu, madrasah tersebut dicatat sebagai tempat pendidikan yang paling masyhur. Kemudian Nidzam al-Mulk mengembangkan madrasah tersebut dengan membuka dan mendirikan madrasah serupa di berbagai kota, baik di wilayah barat maupun timur kekuasaan Islam. Diantaranya didirikan di kota-kota Balkh, Naisabur, Isfahan, Mosul, Basra dan Tibristan. Oleh karena itu, kota-kota tersebut kemudian menjadi pusat-pusat studi keilmuan dan menjadi terkenal di dunia Islam pada masa itu. Para pelajar berdatangan dari berbagai daerah untuk mencari ilmu di madrasah-madrasah Nidzamiyah tersebut. Kesungguhan Nidzam al-Mulk dalam membina madrasah-madrasah yang didirikannya itu tercermin pada kesediaannya menyisihkan waktunya untuk melakukan kunjungan ke madrasah-madrasah Nidzamiyah di berbagai kota tersebut. Disebutkan, bahwa dalam kesempatan kunjungannya tersebut, ia dengan penuh perhatian ikut menyimak dan mendengarkan kuliah-kuliah yang diberikan, sebagaimana ia juga kadang ikut mengemukakan pikiran-pikirannya di depan para pelajar di madrasah itu.

Lembaga pendidikan Islam yang pertama kali menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang adalah Madrasah Nidzamiyah. Kurikulumnya berpusat pada al-Qur'an (membaca, menghafal dan menulis), sastra arab, sejarah Nabi SAW dan berhitung, dengan menitikberatkan pada madzhab Syafi'i dan teologi Asy'ariyah. Seorang pengajar selalu dibantu oleh dua orang pelajar yang bertugas membaca dan menerangkan kembali kuliah yang telah diberikan kepada mahasiswa yang tertinggal. Sistem belajar di Madrasah Nidzamiyah adalah: tenaga pengajar berdiri di depan ruang kelas menyajikan materi-materi kuliah, sementara para pelajar duduk dan mendengarkan di atas meja-meja kecil yang disediakan. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara pengajar dan pelajar mengenai materi yang disajikan dalam suasana semangat keilmuan tinggi.

Status pengajar di madrasah tersebut ditetapkan berdasarkan pengangkatan dari khalifah dan bertugas dengan masa tertentu. Untuk menunjukkan bahwa madrasah ini mencoba mengembangkan diri menjadi suatu lembaga pendidikan yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Sesudah Nidzam al-Mulk membuka madrasah-madrasah Nidzamiyah di banyak kota, ia menetapkan untuk memberi gaji setiap bulan bagi para tenaga pengajar di madrasah tersebut. Namun kebijaksanaannya belum bisa diterima oleh tenaga pengajar di Madrasah Nidzamiyah. Mereka lebih suka tanpa digaji, tetapi kesejahteraan hidupnya terjamin. 

Madrasah ini telah mencatat beberapa orang yang mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar, diantaranya:
  1. Syekh Abu Ishaq al-Syirazi, seorang faqih dari Baghdad.
  2. Syekh Abu Nasr al-Sabbagh
  3. Abu Abdullah al-Tabari
  4. Abu Muhammad al-Syirazi
  5. Abu Qasim al-Alawi
  6. Al-Tibrizi
  7. Al-Qazwini
  8. Al-Fairuzabadi
  9. Imam al-Haramain Abd al-Ma'ali al-Juwaini
  10. Abu Hamid al-Ghazali. 

Perkembangan dan Strategi Madrasah Nidzamiyah
Hal yang membuat lembaga-lembaga pendidikan madrasah Nidzamiyah signifikan dalam sejarah Islam adalah mereka semua penganut madzhab Syafi'iyah dan berada di Naisabur, sebuah tempat penting untuk memahami kerangka politik, khususnya yang berhubungan dengan konflik internal Sunni antara Syafi'iyah dan Hanafiyah. Dua gerakan ini adalah gerakan keagamaan yang paling berpengaruh di Naisabur pada separuh pertama abad ke-11. sejarawan ahli dari Amerika, sebagaimana dikutip Mas'ud, menyebut mereka sebagai tokoh-tokoh yang meramaikan Naisabur, selama dua abad. Ini tidak berarti bahwa kelompok Qaramiyyah, Syiah, Malikiyyah dan Hanbaliyyah tidak mempunyai peran.  Pemberian perhatian khusus kepada dua raksasa ini berdasarkan alasan bahwa keduanya memainkan peran penting dalam bernegosiasi dengan pemerintah pusat Baghdad.

Ada beberapa petunjuk yang memperlihatkan konflik mereka, 'Asabiyyah atau ta'assub yang berarti fanatisme pada ajaran khusus keagamaan mereka bukanlah hal yang baru di dunia Islam, baik pada abad ke-10 maupun abad ke-11. Kecenderungan semacam ini juga bisa ditemukan dalam kelompok Syafi'iyah dan Hanafiyyah. Mereka berkompetisi dalam memperoleh posisi keagamaan di pemerintahan, yakni sebagai qadli, syaikh al-Islam, juga dalam mendirikan  madrasah-madrasah untuk mempersiapkan ulama-ulama masa depannya. Jarangnya pernikahan antara mereka juga merupakan sesuatu yang bisa mempertajam ketegangan. Bisa dipahami bahwa pernikahan antarkelompok bisa meredam konflik. Konflik ini lebih jelas bila disepakati bahwa semua Syafi'iyah adalah Asy'ariyyah yang akan menjadi aliran teologi terpenting kemudian. Kelompok yang terakhir ini tidak hanya berhadapan dengan Mu'tazilah, tetapi juga bersitegang dengan Hanbaliyyah pada abad ke-11, pada abad ini agaknya Asy'ariyyah berhasil mengakhiri pengaruh Mu'tazilah. 

Hanafiyyah dan Syafi'iyyah adalah dua kekuatan utama yang bersaing dalam merebut simpati pemerintah. Pada tahun 1048 M persekusi resmi terhadap Syafi'iyyah oleh al-Kunduri, wazir Saljuk. Mulai tahun ini sampai meninggalnya al-Kunduri (1064M) yang dihukum mati secara rahasia karena kesalahannya menentang pengganti Tugril Beg, Alp Arslan, Naisabur didominasi oleh Hanafiyyah secara intents. Dari segi kemampuan politik strategis, al-Kunduri terlalu lemah jika dibandingkan dengan Nidzam al-Mulk. Al-Kunduri tidak pernah berestimasi bahwa persekusinya terhadap Syafi'iyyah akan menghasilkan musuh-musuh besar di kemudian hari, seperti Imam al-Haramain, dan lain sebagainya.

Seperti al-Kunduri, Nidzam al-Mulk juga memanfaatkan rivalitas yang ada diantara faksi-faksi. Perbedaannya adalah kecermatan Nidzam dalam mendekati masalah dan estimasinya yang brilian. Tidak diragukan lagi bahwa Nidzam adalah seorang yang cerdik cendikia dan bijak dalam menyelesaikan setiap persoalan. Karyanya mengenai persoalan pemerintahan sampai sekarang merupakan salah satu buktinya. Selama 20 tahun pemerintahan Maliksyah, kekuasaan Nidzam benar-benar mutlak. 

Nidzam memperoleh simpati masyarakat dengan cara memperbanyak madrasah Nidzamiyah, memanfaatkan ulama-ulama Syafi'iyyah dan memperkuat institusi-institusi Syafi'iyyah secara umum. Dia begitu banyak mendirikan madrasah dari Khurasan di timur hingga Syiria dan Mesopotamia di barat. Sebagian besar posisi penting keagamaan di pemerintahan dipegang oleh ulama Syafi'iyyah-Asy'ariyyah, sedangkan posisi yang kurang penting dipegang oleh Hanafiyyah. Disebabkan madrasah yang berkembang pesat dan penurunan pajak rakyat, aghniya' (jutawan dermawan) dengan tulus mendukung proyek madrasah dengan sumbangan mereka berupa sedekah dan waqaf. Ini berarti madrasah yang didirikan oleh Nidzam disponsori oleh pemerintah dan rakyat.

Dengan demikian, gerakan-gerakan madrasah ini bisa dipandang sebagai upaya reaksi terhadap gerakan Syi'ah yang sebagian besar di barat, terutama di Mesir (Universitas al-Azhar), atau dilihat sebagai upaya untuk mengimbangi rekayasa pendidikan yang dilancarkan sebelumnya oleh Hanafiyyah di Naisabur. Tetapi yang jelas, rekayasa pendirian madrasah-madrasah di bawah kekuasaan Nidzam itu, merupakan simbol kemenangan Sunni sekaligus sebagai buah yang dipetik oleh wazir besar Nidzam al-Mulk atas keberhasilannya dalam menangani konflik-konflik intern dalam masyarakat. 

Tujuan Madrasah Nidzamiyah
Dalam perkembangan peradaban Islam, madrasah Nizhamiyah merupakan unsur penting yang tidak dapat diabaikan, khususnya pada wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk. Hal ini antara lain adalah karena pembangunan jaringan madrasah Nizhamiyah menandai "kebangkitan kembali" paham Sunni. Selain itu, sejarah pendidikan Islam telah menunjukkan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan Islam par excellence sampai pada periode modern dengan diperkenalkannya lembaga-lembaga modern seperti universitas. Oleh karena itu, tujuan pembangunan madrasah ini adalah membangun kembali ilmu pengetahuan yang sempat hilang semasa dinasti Umayah dan kekuasaan Syiah, dan melengkapi sistem pendidikan Mesjid yang terlalu banyak kelemahannya. 

Beberapa hal yang melatarbelakangi berdirinya Madrasah Nidzamiyah adalah sebagai berikut: Pertama, penyebaran ilmu pengetahuan oleh Nidzam al-Mulk karena ia adalah seorang sarjana. Pantas jika ia memiliki semangat untuk membangun lembaga pendidikan yang modern. Kedua, konflik keagamaan yang sangat panjang dalam sejarah Islam hingga abad 5/11 antara kelompok-kelompok yang mengembangkan pemikiran keagamaan dalam Islam, misalnya Mu'tazilah, Syi'ah, Asy'ariyah, Hanafiyah, Hanbaliyah dan Syafl'iyah.  

Perdana Menteri (wazir) Saljuq sebelum Nidzam Al-Mulk adalah Al-Kunduri seorang bermazhab Hanafi dan pendukung paham teologi Mu'tazilah. Salah satu kebijakannya sebagai wazir adalah mengusir dan menganiaya para penganut Asy'ariyah yang  sering disebut sebagai penganut Syafi'i. Setelah digantikan Nidzam al-Mulk, beberapa penulis sejarah pendidikan Islam menyebut bahwa tak ada indikasi pergantian pejabat yang berbeda paham teologi dan mazhab fiqih itu merubah kebijakan politik keagamaan sebelumnya, sehingga merupakan aksi balasan. Nidzam al-Mulk sebagai penganut Syafl'iyah hanya membangun madrasah yang diperuntukkan secara khusus bagi perkembangan mazhab Syafi'iyah. Tidak ada bukti bahwa ia melakukan tindakan balasan, sehingga menghancurkan mazhab lainnya, seperti Mutazilah dan Syiah. Kelompok-kelompok  itu pada akhirnya melemah dengan sendirinya. Jadi, sebenarnya ia ingin posisi Syafi'iyah-Asy'ariyah menguat melalui jalur pendidikan. 

Ketiga, Madrasah Nidzamiyyah juga dimaksudkan sebagai wadah penataran bagi pegawai pemerintahan terutama  dalam mengurusi dan memperbaiki sistem administrasi Negara. Lulusan madrasah yang siap pakai akan ditempatkan di kepegawaian negara sesuai dengan keahliannya, misalnya sebagai katib (sekretaris), qadhi (hakim) dan sebagainya. Terbukti, sistem madrasah berhasil dalam bidang ini. Keempat, pengembangan kestabilan politik dalam negeri. Sebagai wazir, tindakan Nidzam al-Mulk membangun madrasah adalah untuk menguatkan jaringan dan kerangka kerja ulama dan umara', yang berarti hubungan yang serasi antara pemerintah dan rakyat, terutama kelompok Syafi'iyah-Asy'ariyah.  Madrasah pada masa Nidzam al-Mulk dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan khusus yaitu penerapan kebijakan politik di seluruh negeri di bawah kekuasaannya. Lembaga terbaik untuk meyangga hubungannya dengan rakyat adalah lembaga tanpa ikatan resmi, misalnya di bawah otoritas khalifah, seperti mesjid. Lembaga independen tersebut adalah madrasah yang dibangunnya.

Empat faktor tersebut menunjukkan bahwa munculnya madrasah sebagai fenomena sejarah berkaitan dengan banyak faktor, tidak hanya sekedar faktor pendidikan dan agama. Dalam konteks Madrasah Nidzamiyah tadi, kasus-kasus seperti konflik faham keagamaan, konflik politik, dan kebutuhan rekruitmen tenaga kerja untuk mengisi jabatan-jabatan pemerintahan, telah ikut menjadi pendorong lahir dan berkembangnya pendidikan model madrasah .

Madrasah ini boleh dilihat sebagai suatu reaksi terhadap gerakan Syiah di Arab belahan Barat atau juga terhadap rekayasa lembaga pendidikan Hanafiyah yang sudah mapan sebelumnya di Naisabur. Berdirinya madrasah Nidzamiyah merupakan satu simbol kemenangan Sunni dan juga merupakan salah satu cara manis Nidzam al-Mulk dalam menangani konflik-konflik internal masyarakat yang ada.

Berdasarkan asumsi ini, Mas'ud menyimpulkan bahwa tujuan madrasah Nidzamiyah adalah untuk memperkuat ideologi Syafi'i-Asy'ar di satu sisi dan membendung serangan dari pihak lain, seperti Hanbaliyah, Hanafiyyah, Syiah, dan Mu'tazilah di sisi lain. Untuk mendukung roda pemerintahan Nidzam adalah satu kemungkinan, tetapi hal itu tampaknya lebih merupakan strategi Nidzam sendiri daripada tujuan madrasah sebagai sebuah lembaga. 

Kurikulum Madrasah Nidzamiyah
Dalam kosa kata Arab, istilah kurikulum dikenal dengan istilah Manhaj, yakni jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidupannya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik/guru juga peserta didik untuk menggabungkan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai.  Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus  ditempuh atau dipelajari oleh siswa dalam suatu periode tertentu. Dalam arti yang lebih  luas, kurikulum sebenarnya bukan hanya sekadar rencana pelajaran, tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.  Dengan kata lain, kurikulum mencakup baik kegiatan yang dilakukan pada  jam belajar maupun di luar jam belajar, sepanjang hal itu berlangsung di lembaga  pendidikan. Karena itu ada istilah ekstra-kurikuler, yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam tatap muka di ruangan kelas. Akan tetapi, tentu saja kurikulum dalam pengertian seperti itu baru dikenal pada sistem pendidikan modern, baik sekolah  maupun madrasah. Pada masa sebelumnya, meskipun sudah dikenal, muatan kurikulum tidak seketat pengertian tersebut.

Telah disebutkan di atas, bahwa apa yang diajarkan di Madrasah Nidzamiyah masih terbuka untuk didiskusikan. Ciri-ciri Madrasah yang telah diungkap ringkas itu akan menentukan kurikulumnya. Keterlibatan Imam al-Haramayn dalam madrasah tersebut menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Asy'ariyah diajarkan di situ. Bahkan, nama Abu al-Hasan al-Asy'ari terpampang di pintu lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh Nidzam al-Mulk ini. Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah Syafi'iyah, jika jaringan lembaga pendidikan ini dilihat dalam konteks dokumen wakaf Nizhamiyah Baghdad dan Isfahan serta afiliasi mahasiswa dan stafnya, terutama pada mudarris, dan untuk siapa satu madrasah dibangun. Begitupun, Madrasah Nizhamiyah memang menyebarkan Kalam aliran Asy'ariyah, meskipun aspek ini harus dilihat dalam konteks kesyafi'iyahan lembaga tersebut,..... kita tidak punya bukti langsung bahwa para mudarris mengajarkan ilmu kalam di Madrasah Nizhamiyah. Sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa al-Juwaini, yang dipercayakan melaksanakan pengajaran (tadris), memang mengajarkan kalam Asy'ariyah kepada sejumlah mahasiswanya, walaupun tidak dapat dipastikan apakah dia melakukan hal ini di Madrasah Nizhamiyah [Naisapur]. ...... hanya dalam hubungannya dengan wa'izh muballigh, pengkhotbah), berdasarkan kasus Madrasah Nizhamiyah Bagdad, kita memiliki bukti nyata bahwa sang wa'idh (juga beberapa mudarris) menyebarkan kalam Asy'ariyah di Nizhamiyah. 

Di samping fiqh dan tauhid atau kalam, cabang-cabang ilmu lain, seperti ushul fiqh, hadits, akhlak, ilmu al-Qur'an sangat mungkin diajarkan di situ. Alasannya adalah bahwa setiap muslim wajib mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Al-Ghazali menekankan pentingnya kewajiban mempelajari ilmu-ilmu tersebut dalam karya-karyanya.  Jadi masuk akal apabila dikatakan cabang-cabang ilmu agama pelengkap juga diajarkan dalam madrasah tersebut, walaupun fungsinya sebagai pelengkap.

Agaknya Madrasah Nidzamiyah mempunyai kurikulum yang menekankan supremasi fiqih. Semua cabang ilmu agama yang lain diperkenalkan dalam rangka menopang superioritas dan penjabaran hukum Islam. Pendidikan serba fiqih adalah ciri yang menonjol dalam pendidikan sunni muslim abad ke-11, sebagaimana terungkap dalam sejarah. Pola pendidikan semacam ini berlanjut dari abad ke abad. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Madrasah Nidzamiyah adalah model pendidikan madrasah klasik dan pertengahan. 

Keruntuhan Madrasah Nidzamiyah
Madrasah Nidzamiyah sedikit demi sedikit mengalami kemunduran setelah wafatnya Nidzam al-Mulk. Madrasah yang sistem pendidikannya ditiru oleh bangsa Eropa ini sempat berjaya sampai abad ke-14, ketika Timur Lenk menghancurkan Baghdad. Timur Lenk dengan bala tentaranya menyerbu kota Baghdad dan menghancurkan segala peradaban serta membantai ribuan orang di wilayah yang ditaklukkannya. Baghdad hancur lebur sekitar tahun 1393 M. 








DAFTAR RUJUKAN
Atsir, Ibn, Al-Kamil Fi al-Tarikh, juz 4, Mauqi'u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.
Cholil, Munawar, Kelengkaan Tarikh Nabi Muhammad SAW, Jakarta: Bulan Bintang, 1969.
Dahlan, Ihsan Muhammad, Siraj al- Talibin Syarah Minhaj al-'Abidin, Surabaya: Hidayah, tt
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 4, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
Faruqi, M., The Development of The Institutions of Madrasa and The Nizamiyya of Baghdad, vol 26, Islamic Studies 3, 1987.
Al-Ghazali, Abu Hamid, Ihya' Ulum al-Din, juz 1, Mauqi'u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.
Al-Ghazali, Abu Hamid, Minhaj al 'Abidin, Surabaya: Hidayah, tt.
Idi, Abdullah, Suharto, Toto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006
Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988.
Mas'ud, Abdurrahman, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Religius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Gama Media, 2002.
Nakosteen, Mehdi, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, alih bahasa Joko S. Kahhar dan Supriyanto, Surabaya: Risalah Gusti, 1994.
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Quthub, Sayyid, Konsepsi Sejarah Dalam Islam, terj. Nabhan Husein, Al Nabhan Husein, Jakarta: Al-Amin, tt.
Rusn, Abidin Ibn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
Al-Syaebani, Muhammad Umar At Toumy, Falsafah Al Tarbiyah, terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, tt.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000.
Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarata: Proyek Pembinaan Sarana dan Prasarana PTAI, Dirjend Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986.

0 komentar:

Post a Comment