6/20/17

Manajemen Pendidikan Islam

“KONSEP PENGEMBANGAN MENAGEMEN PENDIDIKAN ISLAM”
(Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidik Islam)

PENDAHULUAN
Cita-cita Nasional termuat dalam UUD 1945 telah diterbitkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. 

Demi mewujudkan cita-cita tersebut salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kinerja manajemen pendidikan.Apalagi bagi yang berbasic pendidikan Islam, maka Manajemen Pendidikan Islam menjadi suatu pilihan yang harus diaktualisasi dalam pelaksanaan proses pendidikan. Tentunya dengan mendasarkan kegiatannya pada nilai-nilai ajaran Islam, baik mempertimbangkan bahan-bahan dari al-Qur’an, hadits shahih, Ihwal para Sahabat Nabi maupun ulama dan cendekia muslim.

Tetapi yang paling utama adalah bagaimana Manajemen Pendidikan Islam tersebut bisa teraktualisasi tepat sasaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan, bahkan mencangkup aministrasi, manajemen dan kepemimpinan para pendidik yang menyandang label Islam.

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA
Pengertian Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen berasal dari bahasa Inggris "to manage" yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola. Dalam kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan manajemen sebagai proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.

Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa manajemen sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Manajemen ialah segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan. 

Muljani A. Nurhadi menambahkan bahwa yang dimaksud manajemen adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien. 

Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pengertian manajemen selalu menyangkut adanya tiga hal yang merupakan unsur penting, yaitu: a) usaha kerjasama, b) oleh dua orang atau lebih, dan c) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pengertian tersebut sudah menunjukkan adanya gerak, yaitu usaha kerjasama, personil yang melakukan, yaitu dua orang atau lebih dan untuk apa kegiatan dilakukan, yaitu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tiga unsur tersebut yaitu gerak, orang dan arah kegiatan, menunjukkan bahwa manajemen terjadi dalam sebuah organisasi, bukan pada kerja tunggal yang dilakukan oleh seorang individu.

Pendidikan Islam pada dasarnya adalah suatu proses mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat. Pengertian ini adalah pendidikan Islam dalam perspektif tujuan. Sedangkan pengertian pendidikan Islam pada sudut pandang  kelembagaan bisa diartikan suatu badan atau lembaga pendidikan Islam yang melakukan usaha pendidikan Islam dengan tujuan mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat. 

Abdurrahman an-Nahlawi memberikan pengertian bahwa secara umum Pendidikan Islam merupakan penataan individual dan social yang dapat menyebabkan seseorang tunduk taat pada Islam dan menerapkannya secara sempurna di dalam kehidupan individu dan masyarakat. 

Manajemen pendidikan Islam diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan Islam yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yakni mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat.

Sesuai dengan pernyataan Mujamil dalam Manajemen Pendidikan Islam, yang memberikan pengertian Manajemen Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengelolaan secara Islami terhadap lembaga pendidikan Islam dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. 

Implikasi Manajemen Pendidikan Islam
Makna Manajemen Pendidikan Islam selanjutnya memiliki implikasi-implikasi tertentu yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan sistem dalam manajemen pendidikan Islam yang dapat dijabarkan secara rinci oleh Mujamil sebagai berikut: 

  • Proses pengelolaan secara Islami. Aspek ini mengehendaki adanya muatan-muatan nilai Islam dalam proses mengelola lembaga pendidikan Islam seperti penekanan pada penghargaan, maslahah, kualitas, kemajuan dan pemberdayaan. Selanjutnya upaya pengelolaan itu diupayakan bersandar pada pesan-pesan al-Qur’an dan hadits agar selalu dapat menjaga sifat keislaman (Islami) itu.
  • Terhadap lembaga pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan objek dari manajemen ini yang secara khsusus diarahkan untuk menangani lembaga pendidikan Islam dengan segala keunikkannya. Maka manajemen ini bisa memaparkan cara-cara pengelolaan pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan sebagainya.
  • Suatu proses pengelolaan secara Islami terhadap lembaga pendidikan Islam. Kalimat ini menghendaki adanya sifat inklusif dan eksklusif. Kata secara Islami menunjukan sikap inklusif itu, yang berarti kaidah-kaidah manajerial yang dirumuskan dalam buku ini bisa dipakai pengelolaan pendidikan versi lainnya selama ada kesesuaian sifat dan misinya, dan sebaliknya kaidah-kaidah manajemen pendidikan pada umumnya bisa juga dipakai  dalam mengelola pendidikan Islam selama sesuai dengan nilai-nilai Islam, reliatas dan kultur yang dihadapi lembaga pendidikan Islam. Sedangkan kata-kata terhadap lembaga pendidikan Islam menunjukkan keadaan eksklusif karena menjadi objek langsung dari kajian ini, hanya terfokus pada lembaga pendidikan Islam. Sementara itu, lembaga pendidikan lainnya telah dibahas secara detail dalam buku-buku manajamen pendidikan.
  • Dengan cara menyiasati. Kata-kata ini mengandung strategi yang menjadi salah satu pembeda antara administrasi dengan manajemen. Dalam manajemen memang penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuannya. Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang senantiasa diwujudkan melalui siasat dan strategi tertentu. Adakalanya siasat dan strategi tersebut sesuai dengan siasat atau strategi dalam me-manage lembaga pendidikan umum maupun berbeda sama sekali, lantaran adanya situasi khusus yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.
  • Sumber-sumber belajar dan hal-hal yang terkait. Sumber belajar di sini memiliki kandungan yang cukup luas yaitu: (1) Manusia yang meliputi guru/ustadz/dosen, siswa/santri/mahasiswa, para pegawai, maupun pengurus yayasan; (2) Bahan, yang meliputi perpustakaan, buku paket dan sebagainya; (3) Lingkungan, mengarah pada masyarakat; (4) Alat dan peralatan  seperti laboratorium; dan (5) Aktivitas. Adapun hal-hal yang terkait itu bisa keadaan sosio-politik, sosio-kultural, sosio-ekonomik, maupun sosio-religius yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.
  • Tujuan Pendidikan Islam. Hal ini merupakan arah dari seluruh kegiatan pengelolaan lembaga pendidikan Islam tersebut sehingga tujuan itu mempengaruhi komponen-komponen lainya bahkan mengendalikannya.
  • Efektif dan efisien. Maksudnya berhasil guna dan berdaya guna. Artinya manajemen yang berhasil mencapai tujuannya semula dengan penghematan tenaga, waktu dan biaya. Efektif dan efisien ini merupakan penjelasan terhadap komponen-komponen tersebut sekaligus mengandung makna penyempurnaan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam itu.

Sistem Filsafat Manajemen Pendidikan Islam 
Ditinjau dari sudut sistem filsafat, rumusan definitif Manajemen Pendidikan Islam tersebut telah mencakup ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

  1. Ontologi sebagai “objek  pengelolaan”, dalam hal ini berupa lembaga pendidikan Islam, sumber-sumber belajar, dan hal-hal yang terkait.
  2. Epistemologi sebagai “cara atau metode” pengelolaan, dalam hal ini berupa proses pengelolaan dan cara menyiasati.
  3. Aksiologi sebagai hasil pengelolaan berupa pencapaian  tujuan pendidikan Islam. Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidik Islam

ADMINISTRASI, MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIK ISLAM
Pendidik Islam
Dari segi bahasa, pendidik adalah orang yang mendidik. Istilah lain yang lazim disebut sebagai guru. Dalam bahasa inggris ada beberapa yang berdekatan maknanya seperti teacher dan tutor. Al-Ghazali mempergunakan istilah pendidik dengan berbagai kata seperti, al-mualim (guru), al-mudarris (pengajar), al-muaddib (pendidik), dan al-walid (orang tua).  Tetapi dalam pembahasan makalah ini lebih mengarah kepada pendidik dalam kelembagaan (guru).

Menurut Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. 

Sedangkan dalam perspektif Pendidikan Islam, Pendidik (Pendidik Islam) adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. 

Administrasi Pendidik Islam
Kata “administrasi” berasal dari bahasa Latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare, yang keseluruhannya bisa diartikan melayani, membantu, atau mengarahkan. Jadi administrasi adalah segenap usaha atau kegiatan melayani, membantu, mengarahkan atau mengatur semua kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. 
Sedangkan administrasi pendidik (guru) adalah segenap proses penataan yang bersangkut-paut dengan masalah memperoleh dan menggunakan tenaga kerja dengan efektif dan efisien, agar tujuan penyelenggaraan suatu lembaga pendidikantercapai secara optimal. 

Dengan demikian, administrasi pendidik islam merupakan rangkaian proses penataan administrasi dalam lembaga pendidikan yang di dasarkan atas nilai-nilai ajaran agama Islam.

Adapun bidang garapannya meliputi: 

  • Perencanaan

Pada dasarnya pada perencanaan ada dua garapan dasar:

  1. Kegiatan untuk memadukan antara kebutuhan dengan tenaga yang telah ada, baik menurut jenis jabatan, unit kerja, wilayah penugasan maupun waktu tugas.
  2. Kegiatan untuk penyusunan petugas melalui kegiatan perencanaan, seleksi, penempatan dan pengangkatan hingga sampai pemutusan hubungan kerja.

Perencanaan sangat membantu lembaga pendidikan dalam mengantisipasi perubahan-perubahan, dalam arti terdapa tahapan waktu yang diperlukan dalam menyiapkan personalia.

Fungsi perencanaan administrasi guru ialah untuk mendapatkan calon  tenaga pengajar yang memang dibutuhkan. Perencanaan merupakan proses awal dalam pelaksanaan untuk itu lembaga mampu merencanakan kebutuhan dimasa yang akan datang  guna mendapatkan  kebutuhan  yang  diperlukan dan  guna  mencapai  tujuan pendidikan  yang diinginkan.  Jadi  dengan  adanya  perencanaan  yang terarah  dan sistematis pelaksanaan kegiatan akan berjalan lancar.

  • Seleksi

Secara administrasi, seleksi merupakan metode dan prosedur yang digunakan dalam merekrut calon pegawai baru.Biasanya tahap ini merupakan penjaringan untuk memperoleh personil yang paling baik. Adapun tahapannya biasanya sebagai berikut: Seleksi administrasi atau kelengkapan prasyarat, Ujian/Test, Wawancara

Fungsi  seleksi  administrasi  guru  ialah  penyeleksian  calon  tenaga  pengajar untuk direkrut  atau diambil atas  kebutuhan  pada  lembaga  tersebut,  yang  mana penyeleksian juga harus dapat disesuaikan dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan  oleh lembaga  misalnya: persyaratan  administrasi,  ujian  (tes),  dan wawancara dan persyaratan lainnya.

  • Pengangkatan atau penempatan

Pengangkatan dan penempatan di sini biasanya disesuaikan dengan kualifikasinya secara tepat, atau mempercayakan kepada pegawai baru sesuai dengan ahlinya, karena bila suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tinggal menunggu kehancuran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Hadits riwayat al-Bukhâriy yang artinya "(Imam al-Bukhâriy menyatakan) telah menyampaikan (riyawat) kepada kami Muhammad bin Sinan, telah menyampaikan (riwayat) kepada kami Qulaih bin Sulaiman, telah menyampaikan (riwayat) kepada kami Hilal bin 'Ali, (riwayat itu) dari Atha', dari Yasar, dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: Apabila suatu amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. (Abu Hurairah) bertanya: Bagaimana meletakkan amanah itu ya Rasulullah? Dia menjawab: Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." 

Fungsi  pengangkatan  dan  penempatan  administrasi  guru  adalah mengangkat calon tenaga pengajar yang memang sudah diseleksi dan sudah dipertimbangkan oleh lembaga guna  mendapatkan  calon  tenaga  pengajar  yang  profesional.  Sedangkan penempatan calon  tenaga  pengajar  harus  disesuaikan  dengan  bidang  keahliannya masing-masing agar pelaksanaan tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif.

  • Pembinaan

Menurut Piet Suhertian pengembangan ketenagaan adalah usaha-usaha untuk meningkatkan mutu serta efesiensi kerja seluruh tenaga yang berada dalam suatu unit organisasi baik  tenaga managerial,  tenaga  teknis edukatif maupun  tenaga  tata usaha yang memenuhi syarat jabatan yang ada sekarang dan untuk yang akan datang. 

Fungsi  pembinaan  administrasi  guru  ialah  untuk  membina  tenaga  pengajaragar dapat meningkatkan kompetensi, peningkatan moral, disiplin  kerja, melalui pendidikan dan pelatihan. Pembinaan harus dilakukan terus menerus sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

  • Kesejahteraan

Penghargaan  dan  kesejahteraan  bagi  personil  guru  harus  diperhatikan. Pemberian penghargaan dan kesejahteraan kepada personil guru dimaksudkan untuk memotivasi mereka,  di  samping sebagai  imbalan  atas  kerja  mereka  pemberian penghargan  dan kesejahteraannya  tidak  harus berupa  materi  semata,  melainkan melalui pujian, atau sikap yang  lemah  lembut dengan mereka. Hal  ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Apabila  kamu  diberi  penghormatan dengan  suatu  penghormatan  maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah yang serupa.  Sesungguhnya Allah selalu membuat  perhitungan  atas  tiap-tiap sesuatu.” (QS. An-Nisa : 4/86)

Fungsi  kesejahteraan  administrasi  guru  ialah  untuk  meningkatkan  prestasi kerja dengan memberikan  motivasi  dan  kepuasan  kerja  melalui  kompensas. Kompensasi adalah  segala sesuatu yang  diterima  para  tenaga  pengajar  sebagai balasan  jasa  untuk kerja  mereka.  Kesejahteraan tidak  harus  berupa  materi  sematamelainkan  juga  pujian-pujian  atas  prestasi  yang  diraih  oleh tenaga  pengajar  atau personil.

  • Penilaian atau Evaluasi

Penilaian    atau  evaluasi    pada  dasarnya  berarti  proses  penetapan  seberapa jauh tujuan  yang telah  dirumuskan  dpat  dicapai,  dengan  mempergunakan  cara bekerja, alat dan personil tertentu.

Dengan  demikian  usaha  dalam  evaluasi  dan  penilaian meliputi  pula  tindakan kontrol terhadap efisiensi cara bekerja, keserasian dan ketepatan alat yang digunakan serta kemampuan  personil dalam  mewujudkan  profesionalisme  dalam  bekerja. Sejalan dengan uraian tersebut berati evaluasi bermaksud menilai keseluruhan proseskerja dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

Pelaksanaan evaluasi ini dapat berjalan secara efektif bila dilaksanakan secara kooperatif, agar pihak yang dinilai mengetahui kelemahan dan  kekurangan dalam bekerja untuk diperbaiki guna meningkatkan efesiensinya dalam bekerja.

Fungsi  penilaian  atau  evaluasi  administrasi  guru  ialah  sebagai  kontrol terhadap pelaksanaan yang  sudah  dijalankan  sesuai  dengan  tujuan  yang  telah dirumuskan sebelumnya. Untuk itu pelaksanan evaluasi atau penilaian dapat berjalan secara efektif bila pelaksanaanya berjalan dengan baik.

  • Pemutusan Hubungan Kerja

Pemutusan hubungan kerja dilakukan karena adanya mutasi atau pemindahan kerja, pensiun, meninggal  dunia,  dan  sebagainya.  Hal  ini  dilakukan supaya keterikatan hubungan kerja tidak ada. Pemutusan hubungan kerja di butuhkan karena untuk penyelesaian akhir masa tugas kerja.

Fungsi pemutusan hubungan kerja administrasi guru  ialah untuk mempertegas atau memperjelas keterikatan  masa  kerja  yang  sudah  tidak  ada.  Hal ini misalnya adanya surat  SK (surat keterangan)  pensiun bahwa masa kerja dilembaga tersebut sudah selesai oleh sebab itu pelaksanaan pemutusan hubungan kerja dilakukan akhir selesai masa kerja.

Manajemen Pendidik Islam
Manajemen yang dimaksud lebih kepada kegiatan untuk mencapai sasaran dan tujuan pokok yang telah ditentukan dengan menggunakan orang-orang pelaksana dalam hal ini adalah pendidik atau guru, dan tentunya tetap berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Manajemen adalah inti dari administrasi. Artinya dalam proses administrasi terdapat kegiatan manajemennya

Banyak orang mengira bahwa yang bertanggung jawab melaksanakan manajemen pendidikan hanyalah kepala sekolah dan staf tata usaha.Pandangan seperti ini tentu saja keliru.Manajemen adalah suatu kegiatan yang sifatnya melayani. Dalam kegiatan belajar-mengajar, manajemen berfungsi untuk melancarkan jalannya proses tersebut, atau membantu terlaksananya kegiatan mencapai tujuan agar diperoleh hasil secara efektif dan efisien.

Dalam lingkungan kelas, guru adalah administrator. Guru harus melaksanakan kegiatan manajemen. Di lingkungan sekolah, Kepala Sekolah adalah administrator.Dengan pengertian bahwa manajemen adalah pengelolaan, maka Kepala Sekolah bertindak sebagai manajer di sekolah yang dipimpinnya.

Kepemimpinan Pendidik Islam
Beberapa konsep kepemimpinan

  1. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir (pembawaan atau keturunan) yang ada pada diri seorang pemimpin. Seorang dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu. Konsep ini merupakan konsep yang paling tua dan lama dianut orang.
  2. Kepemimpinan sebagai fungsi kelompok. Sukses-tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya. Setiap kelompok memiliki sifat dan ciri yang berlainan sehingga memerlukan tipe atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.
  3. Kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi. Betapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses-tidaknya kepemimpinannya masih ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan kehidupan kelompok yang dipimpinnya.

Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa, sehingga tercapai tujuan dari kelompok sedemikian rupa, sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama.

Menurut Muwahid Shulhan, pengertian umum kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud atau tujuan tertentu. 

Apabila dimasukkan dalam wilayah pendidik, maka kepemimpinan pendidik dapat diartikan sebagai kemampuan para pendidik itu sendiri yang dalam hal ini adalah guru untuk menggerakkan dan membimbing orang yang terlibat dalam pelaksanaanproses pendidikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan tentunya dalam kepemimpinannya tetap menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam.





DAFTAR RUJUKAN
  • An-Nahlawi, Abdurrahman,Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam: dalam Keluarga, di Sekolah dan Masyarakat, Bandung: CV Diponegoro, 1992
  • Arikunto, Suharsimi dan Yuliana, Lia,Manajemen Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2008
  • Arikunto,Suharsimi, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Yogyakarta: Grafindo Persada, 1993
  • Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Administrasi Sekolah Penataran Lokakarya Tahap 2 Pengembangan Pendidikan Guru, Jakarta: t.p., 1981
  • Fattah, Nanang,Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008
  • Nizar,Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
  • Qomar, Mujamil,Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta: Erlangga, 2008
  • Rosyadi, Khiron,Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
  • Shulhan, Muwahid,Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bina Ilmu, 2004
  • Suhertian,Piet,Dimensi-dimensi  Administrasi  Pendidikan  di  Sekolah, Surabaya:  Usaha Nasional, 1994
  • Uhbiyati, Nur dan Ahmadi, Abu,Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997
  • Undang-Undang No. 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional

0 komentar:

Post a Comment