8/18/17

Kepala Sekolah Adalah Seorang Leader


Kemampuan yang harus diwujudkan kepala madrasah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.  Wahjosumidjo mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. 

Kepribadian kepala madrasah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat: (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.


Pengetahuan kepala madrasah terhadap tenaga kependidikan akan tercermin dalam kemampuan: (1) memahami kondisi tenaga kependidikan (guru dan non guru), (2) memahami kondisi dan karakteristik peserta didik, (3) menyusun program pengembangan tenaga kependidikan, (4) menerima masukan, saran dan kritik dari berbagai pihak untuk meningkatkan kepemimpinannya.

Pemahaman terhadap visi dan misi madrasah akan tercermin dari kemampuannya untuk: (1) mengembangkan visi sekolah, (2) mengembangkan misi sekolah, dan (3) melaksanakan program untuk mewujudkan visi dan misi ke dalam tindakan.

Kemampuan mengambil keputusan akan tercermin dari kemampuannya dalam; (1) mengambil keputusan bersama tenaga kependidikan di sekolah, (2) mengambil keputusan untuk kepentingan internal sekolah, dan (3) mengambil keputusan untuk kepentingan eksternal sekolah.

Kemampuan berkomunikasi akan tercermin dari kemampuannya untuk: (1) berkomunikasi secara lisan dengan tenaga kependidikan di sekolah, (2) menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, (3) berkomunikasi secara lisan dengan peserta didik, (4) berkomunikasi secara lisan dengan orang tua dan masyarakat lingkungan sekitar sekolah. 

Menurut Marno dan Supriyatno, kepala madrasah sebagai leader harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:
  1. Memiliki kepribadian yang kuat.
  2. Memahami semua personalnya yang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lain.
  3. Memiliki upaya untuk peningkatan kesejahteraan guru dan karyawannya.
  4. Mau mendengar kritik/usul/saran yang konstruktif dari semua pihak yang terkait dengan tugasnya baik dari staf, karyawan, atau siswanya sendiri.
  5. Memiliki visi dan misi yang jelas dari lembaga yang dipimpinnya. Visi dan misi tersebut disampaikan dalam pertemuan individual atau kelompok.
  6. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, mudah dimengerti, teratur, dan sistematis kepada semua pihak.
  7. Kemampuan mengambil keputusan bersama secara musyawarah.
  8. Kemampuan menciptakan hubungan kerja yang harmonis, membagi tugas secara merata dan dapat diterima oleh semua pihak. 

Untuk mencapai tujuan madrasah yang efektif dan efesien, kepala madrasah perlu mengadakan pembagian kerja yang jelas bagi guru-guru yang menjadi anak buahnya. Dengan pembagian kerja yang baik, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang tepat serta mengingat prinsip-prinsip pengorganisasian, kiranya kegiatan madrasah akan berjalan lancar dan tujuan dapat tercapai secara optimal.  Terkait dengan hal tersebut, Wahjosumidjo mengatakan, bahwa kepala madrasah merupakan seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.  

Kepala sekolah yang berhasil apabila ia memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik,  serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Bahkan lebih jauh studi tersebut menyimpulkan bahwa ”keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah”.  Untuk menjadi kepala sekolah yang baik dan terampil serta dapat memberikan kepuasan kepada seluruh komponen lembaga pendidikan, khususnya para guru, staf sekolah, bukan hal yang mudah. Hal ini disadari bahwa masing-masing kepala sekolah memiliki kemampuan (skill) yang berbeda-beda, komunikasi antar pribadi yang berbeda-beda, serta kondisi bawahan yang berbeda pula, di sinilah dibutuhkan kepala sekolah yang mampu mengadakan komunikasi positif dengan berbagai pihak terkait. 

Sehubungan dengan dengan hal tersebut, Anwar mengatakan bahwa dalam satuan pendidikan kepala sekolah menduduki dua jabatan penting. Pertama, kepala sekolah sebagai pengelola pendidikan secara keseluruhan. Kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan. Sebagai pengelola pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap keberhasilan penyelenggaran kegiatan pendidikan, juga bertanggungjawab terhadap kualitas sumber daya manusia, agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.  Dalam hal ini kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan, maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif, bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif, efisien dan produktif. 

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin, termasuk di dalamnya sebagai pemimpin pengajaran. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, pengawasan, dan evaluasi. Pelaksanaan fungsi-fungsi pokok manajemen tersebut memerlukan adanya komunikasi dan kerjasama yang efektif antara kepala sekolah dan seluruh staf sekolah.

Dengan demikian kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar, serta menjadi kunci atas keberhasilan terhadap sekolah yang dipimpinnya, sebagaimana dijelaskan Davis yang dikutip Sulistiyorini, bahwa ”a school principal occupies a key position in the schooling system”.  Oleh karena itu kepala sekolah haruslah yang mempunyai kemampuan manajerial dan visioner yang bagus, sehingga ia mampu mengelola sekolah dengan baik, mempunyai gambaran ke depan (visi) yang jelas, bagi sekolah yang dipimpinnya.

Sagala mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin yang dikagumi memiliki 10 watak positif, yakni 1) jujur, 2) kompeten, 3) melihat ke depan, 4) selalu memicu inspirasi, 5) pandai dan cerdas, 6) objektif dan berlaku adil, 7) berwawasan luas, 8) berani mengambil resiko, 9) tidak basa basi langsung pada persoalan, 10) penuh imajinasi.  Watak tersebut menggambarkan bahwa integritas kepala sekolah sudah teruji dan siap berkompetisi, sehingga menjadi kepala sekolah yang visioner, berjiwa enterpreneur, juga komunikatif.

Kepala sekolah yang mempunyai kompetensi yang diharapkan akan menciptakan sekolah yang bermutu dan efektif, dan ini menggambarkan bahwa kepala sekolah memiliki kekuatan teknikal penerapan fungsi-fungsi manajemen, kekuatan manusia pemanfaatan potensi sosial sekolah, kekuatan pendidikan dan kepemimpinan, kekuatan simbolik atas kedudukan profesional, dan kekuatan budaya sebagai sistem nilai yang berorientasi pada budaya mutu dan etos kerja yang tinggi. 

Kepemimpinan adalah satu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan. Oleh sebab itu, kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci keberhasilan kepala madrasah. Kepala madrasah sebagai seorang pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Selain itu juga harus memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.




Daftar Bacaan :
  • Marno, dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: Refika Aditama, 2008), 
  • Daryanto, Administrasi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)
  • Moch. Idochi Anwar, Adminstrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan: Teori Konsep dan Isu, (Bandung: Alfabeta, 2004)
  • Sulistiyorini, Manajemen Pendidikan Islam, (Suarabaya: eLKAF, 2006)
  • Syaiful Sagala, Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Pembuka Ruang Kreativitas, Inovasi, dan Pemberdayaan Potensi Sekolah dalam Sistem Otonomi Sekolah, (Bandung: Alfabeta, 2009)


0 komentar:

Post a Comment