8/16/17

Pendidikan Islam

Pendidikan Islam dalam Perspektif Al-Qur'an (Sebuah Analisis Umum)

Ayat-ayat yang berhubungan dengan konsep pendidikan telah banyak dibicarakan dan dipahami oleh para cendekiawan Muslim (pedagog Muslim), sekalipun mereka menyampaikannya secara terpisah. Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang hal itu berasal dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an). Misalnya dijumpai kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib.

Paradigma pendidikan dalam Al-Quran tidak lepas dari tujuan Allah SWT menciptakan manusia itu seindiri, yaitu pendidikan penyerahan diri secara ikhlas kepada sang Kholik yang mengarah pada tercapainya kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat, sebagaimna Firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 : "Tidak semata-mata kami ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah"

Menurut Armai Arief bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Quran adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT dan kholifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang diciptakan Allah.  Al-Qur’an telah berkali-kali menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa pengetahuan niscaya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya itu, Al-Qur’an bahkan memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi. 
Diantaranya sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat dibawah ini:
  • Surah Al Mujadallah ayat 11 yang artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  • Al Baqarah ayat 31, yang artinya: Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Kata Dia yaitu Allah SWT mengajar Adam nama-nama benda Seluruhnya, yakni memberi potensi pengetahuan tentang nama-nama atau kata-kata yang digunakan menunjuk benda-benda, atau mengajarkannya mengenal fungsi benda-benda. Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahi Allah potensi untuk mengetahui nama dan fungsi serta karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin,dan sebagainya.
  • Surat at-Taubah ayat 122, yang artinya: tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
  • Kata ilmu berasal dari bahasa arab ‘ilm berarti pengetahuan lawan dari jahl berarti kebodohan. Dalam al-Quran kata ‘ilm dan turunannya (tidak termasuk al-a;lam, al-alamin, alamat yang disebut 76 kali) disebut 778 kali.  Dalam dunia Islam, ilmu bermula dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam al-Quran dan bimbingan Nabi SAW. 
Kata ilmu berasal dari bahasa arab ‘ilm berarti pengetahuan lawan dari jahl berarti kebodohan.Dalam al-Quran kata ‘ilm dan turunannya (tidak termasuk al-a;lamal-alaminalamat yang disebut 76 kali) disebut 778 kali.  Dalam dunia Islam, ilmu bermula dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam al-Quran dan bimbingan Nabi SAW. 

Sedangkan kandungan yang ada pada surah tentang etika atau akhlak ketika berada di majelis ilmu. Etika dan akhlak tersebut ditujukan untuk mendukung terciptanya ketertiban, kenyamanan dan ketenangan suasana selama dalam majelis sehingga dapat mendukung kelancaran kegiatan perkembangan ilmu pengetahuan. Ajaran Islam sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dari berbagai aspek. Surat Al-Mujadallah ayat 11 juga mengandung motivasi kuat agar orang giat menuntut ilmu yaitu dengan memberikan kedudukan yang tinggi dalam pandangan Allah SWT. 

Ilmu pengetahuan yang dituju oleh Al-Quran menurut Widodo adalah ilmu pengetahuan dengan pengertiannya yang menyeluruh, yang mengatur segala yang berhubungan dengan kehidupan dan tidak terbatas pada ilmu syariah dan akidah saja. Ia mencakup berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sosial, ekonomi, sejarah, fisika, biologi, matematika, astronomi, dan geografi dalam bentuk gejala-gejala umum, general ideas, atau grand theory yang perlu dikem,bangkan lagi oleh akal manusia . Dalam pandangan yang bersifat internal-global, ilmu-ilmu dalam Al-Quran dapat dijabarkan ke dalam masalah-masalah akidah, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, kisah-kisah lampau,berita-berita akan dating, dan ilmu pengetahuan ilahiah lainnya. 

Ilmu ialah pengetahuan yang disusun secara sistematis yang diperoleh melalui suatu penyelidikan yang rasional dan empiris. Kebenaran hasil suatu penyelidikn atau penelitian yang rasional sudah barang tentu mensyaratkan adanya kemampuan berfikir dan bernalar melalui akal yang sehat secara logis untuk menetukan kesimpulan suatu kebenaran yang semuanya bersifat nisbi (sekarang aktual besok basi), karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah SWT.
Pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan; selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami.

Dalam surat Al-baqoroh ayat 31 dapat dipahami, bagi para ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam dalam arti mengajarkan kata-kata, diantara mereka ada yang mengatakan bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengarkan suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam nama benda itu pada saat dipaparkanya ehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada mesing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda yang lain. 

Kata mengajar tidak selalu dalam bentuk pendiktean sesuatu atau menyampaikan suatu kata, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan. Kata Tsumma, ada yang memahaminya sebagai waktu yang relatif lama antara pengajaran Adam dan pemaparan itu, dan ada juga yang memahaminya bukan dalam arti selang waktu, tetapi sebagai isyarat tentang kedudukan yang lebih tinggi, dalm arti pemaparan serta ketidakmampuan malaikat dan jelasnya keistimewaan Nabi Adam melalui pengetahuan yang dimilikinya. 

Ta’lim berasal dari kata ’allama. Muhammad Rasyid Ridha mengartikan ta’lim dengan proses tranmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pengertian ini didasarkan pada ayat di atas tentang allama Tuhan kepada Nabi Adam. Proses transmisi dilakukan secara bertahap sebagaiana nabi Adam menyaksikan dan menganalisa nama-nama yang diajarkan Allah kepadanya. 

Manusia memiliki potensi untuk mengetahui, memahami apa yang ada di alam semesta ini. Serta mampu mengkorelasikan antara fenomena yang satu dan fenomena yang lainnya. Karena hanya manusia yang disamping diberi kelebihan indera, manusia juga diberi kelebihan akal. Yang dengan inderanya dia mampu memahami apa yang tampak dan dengan hatinya dia mampu memahami apa yang tidak nampak.

Ilmu pengetahuan adalah sebuah hubungan antara pancaindera, akal dan wahyu. Dengan pancaindera dan akal (hati), manusia bisa menilai sebuah kebenaran (etika) dan keindahan (estetika). Karena dua hal ini adalah piranti utama bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Namun, disamping memiliki kelebihan, kedua piranti ini memiliki kekurangan. Sehingga keduanya masih membutuhkan penolong untuk menunjukkan tentang hakikat suatu kebenaran, yaitu wahyu. Dan dengan wahyu manusia dapat memahami posisinya sebagai khalifah fil ardh. 



DAFTAR RUJUKAN
  • Muhaimin, Nuansa baru Pendidikan Islam:Menguraui Benang Kusut Dunia Pendidikan, Jakarta:Pt RajaGrafindo Persada, 2006
  • Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, 2006
  • Arifin HM. Kapita Selekta PendidikanIslam dan Umum, Jakarta:Bumi Aksara, 1991
  • Muhammad Fadhil al-Jamali, Falsafah pendidikan Islam dalam Al-Quran, Surabaya:Bina Ilmu, 1986
  • Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, Bandung:Mizan, 1991
  • Hamdani Ihsan, Fuad Ihsan,  Filsafat Pendidikan Islam, Bandung:Pustaka Setia, 2007
  • Armai Arief, Reformasi Pendidikan Islam, Ciputat: Ciputat Press, 2007
  • Ensiklopedia Islam, Jilid 2 Jakarta: Van Hoeve Icttiar Baru, 1997
  • Abudin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2002
  • Sembodo Ardi Widodo, Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: Nimas Multima, 2007
  • Yusuf al-Qardawi, Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, terj. Abad Badruzzaman, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2001
  • Juwariyah, Hadis Tarbawi, Yogyakarta: Teras, 2010
  • Hery Noer Aly & Munzier Suparta, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, Jakarta: CV. Triasco, 2003


0 komentar:

Post a Comment