11/10/17

Pendidikan Agama Islam Pada Lembaga Pendidikan

Penanaman Nilai Relegius dalam Membentuk Budaya Keagamaan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, karena pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. 

Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 tentang pendidikan menyebutkan antara lain “pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.  Hal ini menunjukkan pendidikan berorientasi ke masa depan dengan bertumpu pada potensi sumber daya manusia dan kekuatan budaya masyarakat, sehingga meningkatkan mutu manusia dan masyarakat. Peningkatan mutu pendidikan Islam memperhatikan pengembangan kecerdasan rasional dalam rangka memacu penguasaan nilai-nilai agama Islam dan ilmu pengetahuan serta teknologi di samping memperkokoh kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual.

Pembangunan pendidikan di Indonesia mengacu pada sistem pendidikan nasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang ini dinyatakan fungsi pendidikan nasional adalah “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.  Pendidikan nasional ini berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman. Selain itu, pendidikan nasional memiliki misi meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayan ilmu pengetahun, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.

(Baca juga : Budaya Keagamaan)

Di dalam Bab II Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, dinyatakan bahwa pengelolaan pendidikan agama dilaksanakan oleh Menteri Agama, dan bertujuan “untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni”.  Agama merupakan keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup. Tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berakhlak mulia atas dasar percaya atau beriman kepada Tuhan dan tanggung jawab pribadinya. 

Pendidikan keagamaan berfungsi “mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama”.  Hal ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia adalah masyarakat yang berdasarkan pada kehidupan beragama dalam pergaulannya. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

Di Indonesia, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.  Pendidikan dasar  sebagai bagian integral dan fundamental dalam sistem pendidikan nasional adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di sekolah dasar (SD) dan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) atau satuan pendidikan yang sederajat. Pendidikan dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.  Sekolah dasar dipandang sebagai satuan pendidikan yang eksistensinya paling urgen. Terlebih lagi dalam kaitannya dalam penanaman nilai-nilai agama pada anak didik sejak dini.

Pada era globalisasi ini, kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya semakin meningkat, sekolah yang berkualitas semakin dicari. Orang tua tidak peduli apakah sekolah negeri ataupun swasta. Sekolah-sekolah yang bermutu dan bermuatan agama, menjadi pilihan pertama bagi orang tua di berbagai kota. Orang tua menyadari benar akan pentingnya pendidikan yang bernuansa keagamaan bagi anak-anaknya dalam rangka untuk menangkal pengaruh yang negatif di era globalisasi. Meskipun demikian ada juga orang tua yang menyekolahkan anaknya tanpa memperhatikan aspek keagamaan dan lebih mementingkan mutu sekolah yang bersangkutan.

Kondisi ini disebabkan orang tua sangat menyadari bahwa pendidikan agama penting ditanamkan pada anak sejak dini. Kesibukan orang tua yang umumnya bekerja, baik ayah dan ibu telah menyebabkan waktu untuk menanamkan ajaran agama dalam keluarga sangat berkurang sehingga orang tua cenderung lebih mempercayakan pendidikan agama anak di sekolah. Salah satu indikatornya adalah adanya booming atau menjamurnya SD yang bermuatan agama (SDI). Ada kecenderungan orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di SDI baik paruh waktu atau seharian (fullday).

Kesadaran orang tua akan pentingnya penanaman nilai-nilai agama anak sejalan dengan pandangan Jalaluddin tentang pentingnya pengenalan agama sejak dini. Menurut Jalaluddin yang dikutip Kartika Nur Fathiya, mengatakan bahwa pengenalan ajaran agama sejak dini sangat berpengaruh dalam membentuk kesadaran dan pengalaman agama pada diri anak. Adanya kesadaran dan pengalaman agama pada anak akan membentuk budi pekerti, perasaan, cita rasa dan kepribadian positif yang sangat penting bagi kehidupan anak selanjutnya baik secara personal maupun interpersonal.

Secara personal, tingginya kesadaran agama berpengaruh pada teraktualisasinya kesehatan jiwa seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang dimanifestasikan dalam bentuk ketenangan jiwa, perasaan aman, dan tenteram. Secara interpersonal, tingginya kesadaran agama akan mengembangkan kemampuan dan ketrampilan individu dalam berinteraksi dengan individu lain dan alam sekitarnya.  Dalam agama, individu diajarkan dan dituntut untuk senantiasa menunjukkan kasih sayang dan saling tolong menolong antar sesama manusia. Semakin tinggi kesadaran beragama semakin tinggi pula rasa kasih sayang dan dorongan untuk tolong menolong antar sesama manusia.

Penanaman nilai agama merupakan hal yang penting dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan. Penanaman nilai agama merupakan hal yang unik lagi menarik karena dalam penanaman nilai agama terdapat korelasi antara pendidik dan peserta didik. Di mana dalam hal ini, pendidik tidak hanya berfungsi sebagai pengajar saja, namun juga sebagai spiritual father bagi peserta didik, yakni sebagai bapak atau orang tua yang bertugas membimbing, mengarahkan dan menanamkan ajaran agama kepada anaknya. Sebagaimana dikatakan dalam berbagai literatur bahwa, Pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif maupun potensi psikomotorik.  

Seorang pendidik tidak hanya menstransfer keilmuan (knowledge), tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai (value) pada peserta didik.  Pendidik adalah komponen yang sangat penting dalam sistem kependidikan, karena ia yang akan mengantarkan anak didik pada tujuan yang telah ditentukan, bersama komponen yang lain terkait dan lebih bersifat komplementatif. 

Peserta didik merupakan komponen yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran. Hubungan antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran ibarat hubungan orang tua dengan anaknya. Maka secara spiritual sebagaimana dikatakan di atas, bahwa pendidik berkewajiban mendidik peserta didik dan menanamkan nilai-nilai agama kepadanya melalui proses pendidikan dan pembiasaan perilaku di lingkungan sekolah. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai iman, ibadah, akhlak, dan sosial dan lain sebagainya.




0 komentar:

Post a Comment