11/10/17

Prospek Pengembangan Pendidikan Madrasah

Dewasa ini banyak upaya peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan oleh berbagai pihak. Upaya-upaya tersebut dilandasi suatu kesadaran betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan watak bangsa (Nation Character Building) untuk kemajuan masyarakat dan bangsa. Harkat dan martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Dalam konteks bangsa Indonesia, peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh. 

Tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Dengan demikian maka dengan kata lain tujuan pendidikan ini termasuk di dalamnya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas yakni bangsa yang berperilaku taqwa kepada Allah, berilmu yang amaliah, beramal yang ilmiah. Dengan harapan bangsa ini mampu hadir dan siap dan berperan dalam persaingan global yang ketat.

Pendidikan diyakini salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan harkat manusia, serta martabat bangsa. Tolak ukur bangsa berkualitas dapat dilihat dari sejauh mana keberhasilan pendidikan dilaksanakan. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat pada suatu bangsa, maka bangsa tersebut dianggap telah maju dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Menyadari betapa pentingnya pendidikan, hampir semua Negara secara berkesinambungan berusaha memperbaiki sistem pendidikan kearah yang lebih baik dengan tidak mengabaikan karakteristik budaya bangsa masing-masing.

Namun semua itu tidak berjalan secara mulus, banyak permasalahan yang dihadapi. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari masalah kebijakan pemerintah, karena menyangkut kebutuhan dasar rakyat, penanganan kebutuhan dasar rakyat memerlukan pendekatan sedekat-dekatnya dengan rakyat agar keterlibatan rakyat semakin berkembang dan penyelenggaraan pendidikan dasar  bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah saja. 
Abdurrahman Shaleh menyatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan menurun dan mengalami perkembangan yang tidak merata. Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang menggunakan pendekatan educational production function atau input-output yang dilaksanakan secara tidak konsekuen. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratis-sentralsistik, sehingga menempatkan sekolah (madrasah) sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah (madrasah) setempat. Ketiga, peran serta masyarakat khususnya orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini pada umumnya lebih bersifat dukungan input (dana), bukan pada proses pendidikan (pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). 

Dalam koteks pendidikan Islam realitas saat ini bisa dibilang telah mengalami masa intellectual deadlock. Diantara indikasinya adalah; pertama, minimnya upaya pembaharuan, dan kalau toh ada kalah cepat dengan perubahan sosial, politik dan kemajuan iptek. Kedua, praktek pendidikan Islam sejauh ini masih memelihara warisan yang lama dan tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual. Ketiga, model pembelajaran pendidikan Islam terlalu menekankan pada pendekatan intelektualisme-verbalistik dan menegasikan pentingnya interaksi edukatif dan komunikasi humanistik antara guru-murid. Keempat, orientasi pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan abd atau hamba Allah dan tidak seimbang dengan pencapaian karakter manusia muslim sebagai khalifah fi al-ardl. 

Dalam sejarah pendidikan Islam, sejarah perkembangan madrasah akan selalu menjadi kajian yang menarik untuk terus dianalisis secara kritis. Kajian ini menjadi sangat urgen karena dinilai akan dapat menempatkan madrasah dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam dan intelektual muslim secara lebih obyektif dan komprehensif. Dinilai sangat urgen karena setiap fase perkembangan madrasah selalu ada upaya-upaya perbaikan, inovasi, dan problematika yang berbeda-beda. Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia pula tentunya telah kita kenal bahwa ada tiga jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia antara lain pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam  Di masing-masing lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki sejarah tersendiri.

Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era modern belakangan semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan  dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang. Terlepas dari berbagai problema yang dihadapi, baik yang berasal dari dalam sistem seperti masalah manajemen, kualitas input dan kondisi sarana prasarananya, maupun dari luar sistem seperti persyaratan akreditasi yang kaku dan aturan-aturan lain yang menimbulkan kesan madrasah sebagai “sapi perah”, madrasah yang memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki oleh model pendidikan lainnya itu menjadi salah satu tumpuan harapan bagi manusia modern untuk mengatasi keringnya hati dari nuansa keagamaan dan menghindarkan diri dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela seiring dengan kemajuan peradaban teknologi dan materi. Sebagai jembatan antara model pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan.

Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam banyak menarik perhatian oleh berbagai kalangan terutama para pemerhati Pendidikan. Ketertarikan para pemerhati pendidikan ini disebabkan oleh banyak hal diantaranya; 1) posisi madrasah sangat strategis dan vital dalam membina generasi bangsa yang jumlah peserta didiknya sangat signifikan; 2) Secara kuantitas, madrasah di Indonesia baik negeri maupun swasta mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan menyebar di seluruh wilayah Republik Indonesia dan 3) adanya anggapan bahwa madrasah seakan-akan tersisih dan termarginalkan dari mainstrem pendidikan nasional dan dianggap sebagai pendatang baru yang dianggap banyak mengalami masalah dalam hal mutu, menagemen dan kurikulum.

Di sisi lain, perubahan yang besar terjadi di sekitar pendidikan Islam, yang mau tidak mau, madrasah harus menghadapinya dan mengharuskan terjadinya perubahan agar pendidikan Islam termasuk madrasah menjadi salah satu alternatif pilihan atau bahkan menjadi pilihan utama oleh masyarakat Indonesia. Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari, dan untuk masyarakat harus secepat mungkin melakukan pembenahan diri dalam menjawab tuntutan masyarakat dan dunia.

Untuk merespon tuntutan masyarakat dan menjaga jati diri madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dan memiliki ciri khas Islam, menurut Malik Fajar , madrasah harus mengembangkan progran seperti; memberikan nuansa Islam atau spritualisasi bidang studi umum, pengajaran bidang studi agama Islam yang bernuansa IPTEK dan menciptakan suasana keagamaam di madrasah terutama dalam pembelajaran mafikibi (matematika, fisika, kimia dan biologi) yang agamis dalam perilaku siswa. Lebih jauh, Malik Fajar mengatakan bahwa madrasah dapat menjadi pendidikan alternatif jika memenuhi empat tuntutan yaitu; kejelasan cita-cita dengan langkah yang operasional dalam usaha mewujudkan cita-cita pendidikan Islam, memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya, meningkatkan dan memperbaiki menajemen dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). 

Sementara itu, menurut Husni Rahim bahwa ada empat agenda besar yang perlu dilakukan madrasah agar segera menjadi madrasah unggul dan dambaan masyarakat yaitu ketersediaan tenaga pengajar yang profesional, kelengkapan sarana dan prasarana, adanya penanganan dengan sistem managemen profesional (modern, transparan dan demokratis) dan adanya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Madrasah, dalam konteks mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman akibat globalisasi ini memiliki peran yang amat penting. Keberhasilan madrasah dalam menyiapkan peserta didik dalam menghadapai tantangan masa depan yang lebih kompleks akan menghasilkan lulusan yang yang memiliki keunggulan kompetitif dan menjadi pemimpin umat, pemimpin bangsa yang ikut menentukan arah perkembangan bangsa ini.

Dalam kaitannya dengan era globalisasi dan perdagangan bebas yang penuh dengan persaingan, madrasah juga harus mempersiapkan peserta didiknya untuk siap bersaing apa saja yang mereka masuki. Hal ini dimaksudkan agar lulusan madrasah tidak terpinggirkan oleh lulusan sekolah umum dalam perebutan tempat dan peran dalam gerakan pembangunan bangsa. Terbukanya peluang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi umum harus dimanfaatkan oleh madrasah sebaik mungkin dan harus meningkatkan kualitas pelajaran ilmu eksakta, seperti matematika, biologi dan fisika. Madrasah harus mendorong peserta didiknya untuk mau bekerja di bidang ekonomi, teknik, dan ilmu eksakta murni agar bidang tersebut tidak hanya dikuasai oleh lulusan nonmadrasah yang belum tentu memiliki mental keagamaan yang kuat. 

Departemen Agama (sekarang Kementrian Agama) salah satu lembaga pemerintah yang bertugas dan bertanggung jawab mengelola sekolah-sekolah agama (madrasah) di Indonesia, untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu merespon tantangan masa depan. Oleh karena itu, Kementrian Agama sebagai institusi yang menaungi madrasah berusaha mencari alternatif peningkatan kualitas madrasah dengan berbagai cara, hingga dalam satu dasawarsa belakangan ini madrasah mengalami sejumlah perubahan dan perkembangan penting.

Dari segi kelembagaan, madrasah memiliki status yang sama dengan sekolah umum, karena merupakan subsistem dari pendidikan nasional. Madrasah pada berbagai tingkatan mulai dari madrasah ibtidaiyah (MI), madrsah tsanawiyah (MTs) hingga madrasah aliyah (MA) adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam formal yang memiliki kesetaraan dengan sekolah-sekolah yang berada di naungan Kemendiknas, seperti sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah umum (SMU).

Kemajuan yang dirasa kurang cukup untuk memacu perubahan yang progresif,  Kemenag menyelenggarakan program madrasah model, sebuah program untuk membuat madrsah unggulan sebagai percontohan bagi madrasah-madrasah di sekitarnya. Madarasah ini memiliki keunggulan dalam system manajemen, pengolahan pembelajaran, penggunaan sarana dan prasarana sebagai alat bantu pendidikan dan keunggulan kualitas lulusan.

Program madrasah model awal mulanya pada tahun 1993 melalui proyek JESP (Junior Secondary Education Project), pada waktu itu perkembangan madrasah hanya terbatas pada madrsah ibtidaiyah dan tsanawiyah. Tujuan umum pengembangan madrasah model mengacu pada tujuan pendidikan Nasional sebagaimana termaktub dalam UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sedangkan secara khusus, madrasah model bertujuan untuk menghasilkan lulusan (out put) pendidikan yang memiliki keunggulan dalam hal: 1) keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, 2) nasionalisme dan patriotism yang tinggi, 3) wawasan IPTEK yang luas dan mendalam, 4) motivasi dan  komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan serta memiliki kepribadian yang kokoh, 5) kepekaan social dan kepemimpinan, 6) disiplin yang tinggi dan kondisi fisik yang prima.
Madrasah model dapat berperan sebagai suatu model, yaitu untuk dijadikan contoh bagi seluruh madrasah negeri dan swasta disekitarnya. Sebagai sekolah “inti” madrasah model diharapkan dapat member efek positif bagi seluruh sekolah yang berada di sekelilingnya, sekaligus sebagai pusat pelayanan sumber pembelajaran dan pusat pendukung bagi madrasah lain.

Dalam perjalanan waktu dan perkembangannya, hingga saat ini madrasah Model masih eksis, pembaharuan atau modernisasi kelembagaan ini merupakan usaha memberdayakan masyarakat karena dengan pemberdayaan madrasah secaran tidak langsung menunjang perbaikan mutu pendidikan secara nasional.


0 komentar:

Post a Comment