Sistem Bahan Bakar Motor

masfery.com - Sistem Bahan Bakar Motor pada mesin empat takt, pemasukan bahan bakar, dan pembuangan gas sisa pembakaran dilakukan melalui katup masuk dan katup buang pada sepeda motor sebagai berikut :

Motor Honda Supra X 125, Absolute Revo 110, Vario Techno FI 125, Blade S 110 dan Beat F1

Motor Yamaha Mio J Teen, Xeon RC, Jupiter MX 135 LC, Z1, Scorpio Z235, Vega ZR, dan Vixion

Suzuki Smash Titan SR, Satria FU 150, Shogun 125 RR, dan Hayate

Kawasaki Ninja 250 R dan Athlete 125

Vespa Piaggio ET4, Excel, dan Excel SM

Kymco Hijau, Terang maupun Hitam. 

Terbuka dan tertutupnya kedua macam katup di sekian banyak jenis motor tersebut diatur oleh perputaran poros bubungan (poros kam). Untuk membedakan antara katup masuk dan katup buang dapat dilihat bahwa diameter katup masuk umumnya lebih besar daripada katup buang, hal ini untuk memperbanyak jumlah bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar.

Sistem Bahan Bakar Motor
Sistem Bahan Bakar Motor

Katup masuk mendapat pendinginan oleh bahan bakar baru yang masuk melalui katup sebelum ke ruang pembakara, sedangkan katup buang hanya dilalui oleh gas-gas hasil pembakaran bersuhu tinggi. Katup masuk pada umumnya dibuat dari baja paduan yang diperkeras, untuk katup buang bahan yang digunakan harus lebih kuat lagi terutama terhadap temperatur tinggi dan harus anti karat.

Bensin tidak akan terbakar tanpa adanya oksigen yang terdapat di dalam udara, dengan demikian peranan udara disini adalah untuk mempermudah pembakaran bensin. Disamping faktor mempermudah pembakaran, juga terdapat terjadinya pencampuran dengan udara. Untuk itu bentuk cairan bensin dari tangkainya diubah menjadi bentuk partikel-partikel kecil yang disebut dengan kabut di dalam ruang bakar, suatu peralatan yang bekerja untuk membentuk terjadinya hal-hal tersebut diatas dinamakan Karburator.

Fungsi Karburator 

1. Mencampur perbandingan udara dengan bensin dalam perbandingan yang tepat pada setiap tingkat putaran mesin.

2. Memasukkan campuran bensin dengan udara ke dalam ruang bakar dalam bentuk kabut.

Kebutuhan bensin di dalam suatu mesin tergantung dari suhu, beban, dan percepatan mesin. Demikian juga pada bentuk perbandingannya dimana untuk putaran stasioner, beban yang berat dan percepatan tinggi memerlukan perbandingan campuran kaya, sebaliknya akan memerlukan perbandingan miskin untuk putaran mesin yang normal dan beban ringan. Variasi dalam perubahan perbandingan campuran udara dan bensin dapat dilakukan secara otomatis oleh bagian-bagian peralatan yang terdapat di dalam karburator.

Udara yang dihembuskan melalui pipa (A) kecepatannya akan bertambah besar pada ujung yang sempit sehingga tekanan udara di sekitar ujung pipa yang sempit akan mengecil atau menurun. Penurunan tekanan udara ini mengakibatkan mengalirnya cairan dari tabung melalui pipa (B) yang kemudian menyemprot keluar dan bercampur dengan udara dalam bentuk kabut. Untuk membentuk pengabutan pada suatu karburator maka pada bagian saluran udara dibuat bentuk yang menyempit atau bagian yang dinamakan daerah venturi sehingga pada daerah ini terjadi penurunan tekanan udara yang mengakibatkan mengalirnya bensin dari tabung untuk dihisap ke dalam ruang bakar dalam bentuk kabut.

Bagian dan Fungsi dalam Karburator

1. Katup gas/throttle valve
  • Untuk mengatur jumlah campuran bensin dengan udara yang akan dimasukkan ke dalam ruang bakar
  • Bentuk celah pada bagian bawah katup gas bagian bawah berfungsi untuk penutup saluran udara yang disebut dengan choke. Akan tetapi pada bagian permukaan tersebut terdapat lekukan yang berfungsi sebagai daerah venturi pada saat pembukaan katup mencapai 1/8 sampai 1/4.
2. Jarum penyiram/jet needle
Untuk mengatur jumlah campuran bensin dengan udara yang mengalir melalui saluran penyiram (spuyer) pada saat dari 1/4 sampai 3/4 pembukaan katup.

3. Penyiram stationer/slow jet
Mengatur jumlah bensin yang digunakan pada waktu putaran stationer.

4. Penyiram utama/main jet
Mengatur jumlah bensin yang digunakan pada waktu putaran stationer.

5. Ruang pelampung/float chamber
Tempat menampung sementara bensin yang akan dialirkan ke ruang bakar.

6. Pelampung (float)
Untuk mempertahankan tinggi permukaan bensin di dalam ruang pelampung agar selalu tetap dan tepat.

7. Sekerup penyetelan udara (air screw)
Mengatur jumlah udara yang akan bercampur dengan bensin.

8. Sekerup penyetelan gas (stop screw)
Mengatur posisi pembukaan katup pada dudukan terendah untuk menentukan putaran stationer.

9. Cuk (choke)
Untuk menutup saluran udara agar terjadi percampuran kaya dengan sementara apabila menghidupkan mesin pada waktu mesin dan cuaca dalam keadaan dingin.

10. Penyiram udara (air jet)
Mengontrol jumlah udara yang menuju main jet dan slow jet agar terjadi percampuran kaya pada kecepatan tinggi dan percampuran miskin pada kecepatan rendah.


Sifat utama bensin sebagai bahan bakar mesin penggerak sepeda motor haruslah mempunyai sifat-sifat berikut.

1. Mempunyai nilai bahan bakar yang tinggi.
2. Mempunyai kesanggupan menguap pada suhu yang rendah.
3. Uap bahan bakar harus dapat dinyalakan dan terbakar segera dalam campuran dengan perbandingan yang cocok terhadap oksigen.
4. Bahan bakar dan hasil-hasil pembakarannya tidak beracun atau membahayakan kesehatan.
5. Harus dapat diangkut dan disimpan dengan mudah dan aman.

Kita tahu bahwa pada akhir kompresi, campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder dinyalakan oleh percikan api dari busi, pembakarannya mulai terjadi disekitar busi, percikan api dari busi, pembakarannya mulai terjadi di sekitar busi, makin banyak bagian campuran yang terbakar, makin banyak panas yang terbentuk, tekanan dan suhu juga naik. 

Kenaikan suhu dari bagian campuran yang belum dicapai oleh nyala atau permukaan api, pada suatu saat dapat mencapai keadaan kritis sehingga dapat terbakar sendiri, batas ini disebut titik nyala. Terbakarnya bagian-bagian yang belum terbakar atau dikenai oleh api, berlangsungnya sangat cepat, dan menyebabkan kenaikan tekanan yang sangat tinggi, peristiwa pembakaran yang demikian itu disebut detonasi.

Detonasi dapat merusak bagian-bagian motor terutama :
1. Torak
2. Batang penggerak
3. Bantalan-bantalan
4. Pena engkol
5. Dan sebagainya.

Peristiwa pembakaran yang sebenarnya adalah bahwa pembakaran baru dapat terjadi apabila campuran dikenai oleh percikan bunga api jangan terbakar dulu sebelum dikenai api, pembakaran yang demikian ini akan menghasilkan kenaikan tekanan yang teratur dan halus. 

Bensin yang cenderung ke arah sifat heptana normal dikatakan bernilai oktan rendah (angka oktan rendah) karena mudah berdetonasi sebaliknya bahan bakar yang lebih cenderung ke arah sifat iso oktana (lebih sukar berdetonasi) dikatakan bernilai oktan tinggi atau angka oktan tinggi, misalnya suatu bensin dengan angka oktan 90 akan lebih suka berdetonasi daripada bensin dengan angka oktan 70.

Jadi, kecenderungan bensin untuk berdetonasi dinilai dari angka oktannya, iso oktana murni diberi indek 100 sedangkan heptana normal murni diberi indeks 0. Dengan demikian suatu bensin dengan angka oktan 90 berarti bahwa bensin tersebut mempunyai kecenderungan berdetonasi sama dengan campuran yang terdiri atas 90 % volume iso oktana dan 10% volume heptana normal, hal ini bukan berarti bensin tersebut terdiri atas 90% iso oktana dan 10% heptana normal.

Untuk mengerem kecenderungan detonasi maka ke dalam bensin dimasukkan zat kimia, yang paling populer ialah Tetra Ethyl Leadatau disingkat TEL. Dengan memberikan zat TEL sedikit saja, kecenderungan bensin untuk berdetonasi menjadi sangat berkurang, pengaruh zat ini terhadap angka oktan bensin tergantung pada susunan kimia bensinnya.

Bensin campur dibuat dengan mencampur bensin dengan oli dan disalurkan ke mesin sehingga poros engkol, ujung besar penggerak dan ujung kecil batang penggerak, dinding silinder dan torak dapat dilumasi. Bensin campur dalam hal ini memang sekaligus berfungsi sebagai pelumas, komposisi pada bensin campur umumnya adalah 20 liter bensin, dengan satu liter atau 30 liter bensin dengan satu liter oli.

Pada permukaan bahan bakar (bensin) untuk jenis motor bensin 2 takt dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu :

1. Dengan cara campuran langsung
Yang dimaksud dengan cara langsung adalah bahwa bahan bakar yang berada di dalam silinder adalah bahan bakar campuran dengan minyak pelumas dan ini bersama-sama udara masuk ke dalam silinder motor.

2. Dengan cara campuran tidak langsung
Yang dimaksud dengan cara ini ialah bahwa bahan bakar murni dari tangki akan menuju karburator yang bersama-sama minyak pelumas dari pompa injeksi otomatis kemudian bersama-sama udara masuk ke dalam silinder motor bakar.

Sekian Penjelasan Mengenai Sistem Bahan Bakar Motor. Semoga Bermanfaat!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel